Recent Articles
Home » Posts filed under Pengolahan Pangan
Tampilkan postingan dengan label Pengolahan Pangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengolahan Pangan. Tampilkan semua postingan
-
PENDAHULUAN
Bawang goreng merupakan produk olahan utama dari bawang merah.
Pengolahan produk ini tidak sulit dan dapat dilakukan dengan biaya
merah
sebagai usaha kecil di rumah tangga.
- BAHAN
- Bawang goreng. Bawang merah yang paling cocok untuk diolah
menjadi bawang goreng adalah bawang varictas Sumenep.
- Terigu. Terigu yang digunakan adalah merek segitiga biru.
- Tapioka.
- Minyak goreng.
- Bawang goreng. Bawang merah yang paling cocok untuk diolah
menjadi bawang goreng adalah bawang varictas Sumenep.
- PERALATAN
- Pisau dan talenan. Alat ini digunakan untuk mengiris umbi
bawang merah.
- Alat pengiris. Alat ini digunakan untuk mengiris bawang
merah. Alat ini dapat mengiris bawang merah lebih cepat dibanding
pisau dan talenan.
- Baskom. Alat ini digunakan untuk menampung hasil irisan.
- Wajan. Alat ini digunakan untuk menggoreng irisan bawang.
- Tungku kayu atau kompor.
- Peniris. Alat ini digunakan untuk meniriskan minyak irisan
bawang yang baru selesai digoreng. Untuk itu dapat digunakan
tampah dan besek anyaman jarang, atau wadah plastik yagn berlobang-lobang.
Penirisan akan lebih efektif jika menggunakan mesin peniris
sentrifugal.
- Botol kaca bermulut lebar dengan penutup ulir. Alat ini
digunakan untuk mengemas bawang goreng.
- Kantung plastik. Alat ini juga digunakan untuk mengemas
bawang goreng. Kantung yang digunakan adalah dari jenis plastik
polietilen.
- Sealer listrik. Alat ini digunakan untuk menutup kantong plastik.
- Pisau dan talenan. Alat ini digunakan untuk mengiris umbi
bawang merah.
- CARA PEMBUATAN
- Bawang dikupas, dan pangkal umbi dibuang, kemudian bawang
dicuci sampai bersih.
- Terigu dicampur dengan tapioka sampai rata. Tiap 150 gram
tapioka dicampur dengan 175 gram terigu. Campuran ini disebut
tepung campuran.
- Bawang ditiriskan membujur (tebal ± 2 mm), kemudian
dimasukkan ke dalam baskom, dan ditambah dengan tepung campuran.
Baskom digoyang-goyang sampai bahan tercampur rata. Setiap
1 kg irisan bawang dicampur dengan 65 gram tepung campuran.
Hasil yang diperoleh disebut irisan bawang bertepung.
- Irisan bawang bertepung segera digoreng di dalam minyak
panas ( suhu 170 °C) selama 10 menit sampai garing. Setelah
itu bawang ditiriskan dan
didinginkan.
- Bawang goreng yang telah dingin dikemas di dalam kemasan tertutup rapat. Sebagai kemasan dapat digunakan kantong plastik, atau botol kaca bermulut lebar dengan penutup ulir.
- Bawang dikupas, dan pangkal umbi dibuang, kemudian bawang
dicuci sampai bersih.
- KONTAK HUBUNGAN
Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat;
Jl. Rasuna Said, Padang Baru, Padang, Telp. 0751 40040, Fax. 0751
40040
Sumber : Teknologi Tepat Guna Agroindustri Kecil Sumatera Barat, Hasbullah, Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat
-
PENDAHULUAN
Dodol adalah makanan berupa gel yang terbuat dari campuran
bahan beras pati, gula dan bahan pengisi lainnya seperti buah
dan rumput laut.
Dodol tergolong makanan semi basah dengan kadar gula tinggi sehingga dapat disimpan agak lama (1-3 bulan). Pembuatan makanan ini tidak sulit dan dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat yang biasa terdapat pada rumah tangga.
-
BAHAN
- Pisang yang telah matang konsumsi, dan daging lunak (1
kg)
- Gula pasir putih bersih. (0,25 kg). Bahan ini digiling
sampai halus.
- Gula merah (100 gram). Bahan ini digiling sampai halus.
- Garam dapur halus dan putih bersih (10 gram)
- Tepung ketan (50 gram)
- Santan kental (450 ml)
- Natrium benzoat (1 gram).
- Lemak sapi (secukupnya). Lemak padat sapi dibersihkan dari jaringan daging, dan dipotong kecil-kecil. Setelah itu potongan lemak dimasak dalam panci atau wajan sampai mencair. Setelah mencair, lemak cair panas ini disaring dengan kain saring secara cepat. Setelah itu, lemak dipanaskan lagi sambil diaduk-aduk. Busa yang timbul dibuang.
- Pisang yang telah matang konsumsi, dan daging lunak (1
kg)
- PERALATAN
- Wajan . Alat ini digunakan untuk memanaskan adonan dodol.
- Penggiling. Alat ini digunakan untuk menghaluskan daging
buah pisang menjadi bubur. Penggilingan dapat dilakukan dengan
mesin penggiling. Untuk usaha kecil, penggilingan dapat dilakukan
dengan menggunakan lumpnag dan blender.
- Cetakan. Cetakan berupa baki dengan ketebalan 1~2 cm. Alat
ini digunakan untuk mencetak dodol.
- Alat pengering. Alat ini digunakan untuk mengeringkan dodol yang sedang berada di dalam cetakan. Jika tidak tersedia alat pengering, adonan dapat dijemur dengan sinar matahari.
- Wajan . Alat ini digunakan untuk memanaskan adonan dodol.
- CARA PEMBUATAN
- Pembuatan adonan dodol. Pisang dikupas, kemudian digiling
sampai halus. Setelah itu ditambahkan gula pasir, gula merah,
tepung ketan, santan kental dan natrium benzoat. Campuran
ini diaduk sampai rata. Campuran ini disebut dengan adonan
dodol.
- Pemasakan adonan. Adonan dimasak di dalam wajan sambil
diaduk. Pengadukan dilakukan sampai adonan menjadi liat, berminyak
dan tidak lengket. Hasil pemasakan ini disebut dengan adonan
dodol masak.
- Pencetakan. Adonan dodol masak diangkat dari wajan, kemudian dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk baki dengan ketinggian 1-2 cm. Adonan ditekan-tekan agar padat dan rata. Sebelum adonan dimasukkan, permukaan dalam baki dialasi dengan plastik atau daun pisang.
- Penjemuran. Adonan dodol di dalam cetakan dijemur sampai agak kering atau dikeringkan dengan alat pengering
- Pemotongan dan pelapisan dengan lemak. Dodol yang telah
mengeras dipotong-potong, kemudian dicelupkan ke dalam lemak
sapi yang sedang mencair, dan segera diangkat. Dodol ini dibiarkan
beberapa saat sampai lemak pada permukaannya mengeras.
- Pengemasan. Potongan-potongan dodol dibungkus dengan kertas minyak, kertas kue atau plastik. Setelah itu, dodol dikemas di dalam kantong plastik.
- Pembuatan adonan dodol. Pisang dikupas, kemudian digiling
sampai halus. Setelah itu ditambahkan gula pasir, gula merah,
tepung ketan, santan kental dan natrium benzoat. Campuran
ini diaduk sampai rata. Campuran ini disebut dengan adonan
dodol.
- KONTAK HUBUNGAN
Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat,
Jl. Rasuna Said, Padang Baru, Padang, Tel. 0751 40040, Fax. 0751
40040
Sumber : Teknologi Tepat Guna Agroindustri Kecil Sumatera Barat, Hasbullah, Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat
- PENDAHULUAN
Tepung ubi jalar adalah tepung pati yang diperoleh dari proses
ekstra pati secara basah terhadap umbi ubi jalar. Pembuatan
tepung ubi jalar sama dengan pembuatan tapioka. Umbi diparut,
ditambah air untuk ekstraksi pati., kemudian disaring untuk
memisahkan serat, diendapkan untuk mendapatkan pasta pati, dikeringkan
dan terakhir, digiling untuk menghaluskan pati menjadi tepung
ubi jalar.
-
BAHAN
- Ubi jalar.
- Air.
- Ubi jalar.
-
PERALATAN
- Pisau dan talenan.
- Pemarut.
- Penyaring.
- Wadah pengendapan.
- Pengering.
- Penggiling.
- Pisau dan talenan.
-
CARA PEMBUATAN
- Pengupasan. Umbi dikupas, kemudian dicuci sampai bersih.
- Pemarutan. Umbi diparut halus menjadi bubur umbi. Jika
umbi yang ditangani cukup banyak, umbi digiling dengan mesin
penggiling. Setelah itu, bubur ditambah air (1 bagian bubur
ditambah dengan 2 bagian air), diaduk-aduk agar pati lebih
banyak yang terlepas dari sel umbi. Jika bubur cukup banyak,
pengadukan dilakukan dengan alat pengaduk mekanis.
- Penyaringan suspensi pati. Bubur umbi disaring dengan kain
saring sehingga pati lolos dari saringan sebagai suspensi
pati, dan serat tertinggal pada kain saring. Suspensi pati
ini ditampung pada wadah pengendapan..
- Pengeringan. Suspensi pati dibiarkan mengendap di dalam
wadah pengendapan selama 12 jam. Pati akan mengendap sebagai
pasta. Cairan di atas endapan dibuang, dan pasta dijemur di
atas tampah, atau dikeringkan dengan alat pengering sampai
kadar air di bawah 14%. Produk yang telah kering akan gemersik
bila diremas-remas. Hasil pengeringan ini disebut dengan tepung
kasar.
- Penggilingan. Tepung kasar selanjutnya dapat ditumbuk atau
digiling sampai halus (sekurang-kurangnya 80 mesh) menjadi
tepung ubi jalar.
- Pengemasan. Tepung ubi jalar dapat dikemas di dalam karung plastik atau kotak kaleng dalam keadaan tertutup rapat.
- Pengupasan. Umbi dikupas, kemudian dicuci sampai bersih.
- KONTAK HUBUNGAN
Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat,
Jl. Rasuna Said, Padang Baru, Padang, Telp. 0751 40040, Fax. 0751
40040
Sumber : Teknologi Tepat Guna Agroindustri Kecil Sumatera Barat, Hasbullah, Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat
- PENDAHULUAN
Serealia dan umbi-umbian banyak tumbuh di Indonesia. Produksi
serealia terutama beras sebagai bahan pangan pokok dan umbi-umbian
cukup tinggi. Begitu pula dengan bertambahnya penduduk, kebutuhan
akan serealia dan umbi-umbian sebagai sumber energi pun terus
meningkat. Tanaman dengan kadar karbohidrat tinggi seperti halnya
serealia dan umbi-umbian pada umumnya tahan terhadap suhu tinggi.
Serealia dan umbi-umbian sering dihidangkan dalam bentuk segar,
rebusan atau kukusan, hal ini tergantung dari selera.
Usaha penganekaragaman pangan sangat penting artinya sebagai usaha untuk mengatasi masalah ketergantungan pada satu bahan pangan pokok saja. Misalnya dengan mengolah serealia dan umbi-umbian menjadi berbagai bentuk awetan yang mempunyai rasa khas dan tahan lama disimpan. Bentuk olahan tersebut berupa tepung, gaplek, tapai, keripik dan lainya. Hal ini sesuai dengan program pemerintah khususnya dalam mengatasi masalah kebutuhan bahan pangan, terutama non-beras. Ubi kayu atau singkong merupakan salah satu bahan makanan sumber karbohidrat (sumber energi).
Ubi kayu dalam keadaan segar tidak tahan lama. Untuk pemasaran yang memerlukan waktu lama, ubi kayu harus diolah dulu menjadi bentuk lain yang lebih awet, seperti gaplek, tapioka (tepung singkong), tapai, peuyeum, keripik singkong dan lain-lain. Tepung singkong dibuat dari potongan ubi kayu yang telah kering, kemudian dihaluskan. Ubi kayu yang digunakan harus baik dan sudah tua, sehingga tepung yang dihasilkanpun baik. Ubi kayu yang berumur 6 bulan kadar airnya masih sangat tinggi sehingga zat tepungnya hanya sedikit. Tepung singkong dipakai sebagai bahan membuat makanan.Tabel 1. Komposisi Ubi Kayu (per 100 gram bahan) KOMPONEN KADAR Kalori
146,00 kal Air 62,50 gram Phosphor
40,00 mg Karbohidrat 34,00 gram Kalsium
33,00 mg Vitamin C
30,00 mg Protein
1,20 gram Besi
0,70 mg Lemak
0,30 gram Vitamin B1
0,06 mg Berat dapat dimakan 75,00
- BAHAN
Ubi kayu (singkong)
- ALAT
- Pisau
- Baskom atau panci
- Alat perajang (talenan)
- Tampah atau (nyiru)
- Ayakan
- Alat penumbuk (lumpang dan alu)
- Pisau
- CARA PEMBUATAN
- Kupas singkong, cuci lalu jemur hingga kering;
- Masukkan singkong kering ke dalam lumpang, kemudian tumbuk;
- Setelah itu ayak dengan ayakan halus;
- Tumbuk lagi sisa pengayakan dan ayak kembali hingga halus;
- Jemur hasil ayakan atau tepung di bawah sinar matahari. Apabila hujan, pengeringan dilakukan di dalam ruangan dengan pemanas buatan, seperti kompor.
- Kupas singkong, cuci lalu jemur hingga kering;
- DIAGRAM ALIR PEMBUATAN TEPUNG SINGKONG
- DAFTAR PUSTAKA
Tepung Singkong Dalam: Paket Industri Pangan. Bogor : Pusat
Pengembangan Teknologi Pangan. IPB,1989. Hal. 1.
- KONTAK HUBUNGAN
Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan, PDII, LIPI, Jl.
Jend. Gatot Subroto 10 Jakarta 12910.
Sumber : Tri Margono, Detty Suryati, Sri Hartinah, Buku Panduan Teknologi Pangan, Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI bekerjasama dengan Swiss Development Cooperation, 1993.
-
PENDAHULUAN
Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang
tanah, biji kecipir, koro, kelapa dan lain-lain merupakan bahan
pangan sumber protein dan lemak nabati yang sangat penting peranannya
dalam kehidupan. Asam amino yang terkandung dalam proteinnya
tidak selengkap protein hewani, namun penambahan bahan lain
seperti wijen, jagung atau menir adalah sangat baik untuk menjaga
keseimbangan asam amino tersebut.
Kacang-kacangan dan umbi-umbian cepat sekali terkena jamur (aflatoksin) sehingga mudah menjadi layu dan busuk. Untuk mengatasi masalah ini, bahan tersebut perlu diawetkan. Hasil olahannya dapat berupa makanan seperti keripik, tahu dan tempe, serta minuman seperti bubuk dan susu kedelai.
Kedelai mengandung protein 35 % bahkan pada varitas unggul kadar proteinnya dapat mencapai 40 - 43 %. Dibandingkan dengan beras, jagung, tepung singkong, kacang hijau, daging, ikan segar, dan telur ayam, kedelai mempunyai kandungan protein yang lebih tinggi, hampir menyamai kadar protein susu skim kering.
Bila seseorang tidak boleh atau tidak dapat makan daging atau sumber protein hewani lainnya, kebutuhan protein sebesar 55 gram per hari dapat dipenuhi dengan makanan yang berasal dari 157,14 gram kedelai.
Kedelai dapat diolah menjadi: tempe, keripik tempe, tahu, kecap, susu, dan lain-lainnya. Proses pengolahan kedelai menjadi berbagai makanan pada umumnya merupakan proses yang sederhana, dan peralatan yang digunakan cukup dengan alat-alat yang biasa dipakai di rumah tangga, kecuali mesinpengupas, penggiling, dan cetakan.
Tabel 1. Komposisi Kedelai per 100 gram Bahan KOMPONEN KADAR (%) Protein
35-45 Lemak
18-32 Karbohidrat
12-30 Air 7
Kecap termasuk bumbu makanan berbentuk cair, berwarna coklat kehitaman, serta memiliki rasa dan aroma yang khas.Tabel 2. Perbandingan Antara Kadar Protein Kedelai Dengan Beberapa Bahan Makanan Lain BAHAN MAKANAN PROTEIN (% BERAT) Susu skim kering
36,00 Kedelai
35,00 Kacang hijau
22,00 Daging
19,00 Ikan segar
17,00 Telur ayam
13,00 Jagung
9,20 Beras
6,80 Tepung singkong 1,10
-
BAHAN
- Kedelai (putih atau hitam) 1 kg
- Jamur tempe 3 gram
- atau daun usar 1 lembar
- Daun salam 2 lembar
- Sereh 1 batang pendek
- Daun jeruk 1 lembar
- Laos ¼ potong
- Pokak 1 sendok teh
- Gula merah 6 kg
- Air (untuk melarutkan gula merah) 1 ½ liter
- Garam dapur 800 gram untuk 4 liter air
- Kedelai (putih atau hitam) 1 kg
- ALAT
- Panci
- Tampah (nyiru)
- Kain saring
- Sendok pengaduk
- Botol yang sudah disterilkan
- Panci
- CARA PEMBUATAN
- Cuci kedelai dan rendam dalam 3 liter air selama satu malam.
Kemudian rebus sampai kulit kedelai menjadi lunak, lalu tiriskan
di atas tampah dan
dinginkan;
- Beri jamur tempe pada kedelai yang didinginkan. Aduk hingga
rata dan simpan pada suhu ruang (25 0 ~30°C) selama 3~5
hari;
- Setelah kedelai ditumbuhi jamur yang berwarna putih merata,
tambahkan larutan garam. Tempatkan dalam suatu wadah dan biarkan
selama 3-4 minggu pada suhu kamar (25 0 ~30°C). Batas
maksimum proses penggaraman adalah dua bulan;
- Segera tuangkan air bersih, masak hingga mendidih lalu saring;
- Masukkan kembali hasil saringan, tambah gula dan bumbu-bumbu.
Bumbu ini (kecuali daun salam, daun jeruk dan sereh) disangrai
terlebih dahulu kemudian digiling halus dan campur hingga
rata.
Penambahan gula merah untuk:
- Kecap manis : tiap 1 liter hasil
saringan membutuhkan 2 kg gula merah
- Kecap asin : tiap 1 liter hasil
saringan membutuhkan 2 ½ ons gula merah
- Kecap manis : tiap 1 liter hasil
saringan membutuhkan 2 kg gula merah
- Setelah semua bumbu dicampurkan ke dalam hasil saringan, masak sambil terus diaduk-aduk. Perebusan dihentikan apabila sudah mendidih dan tidak berbentuk buih lagi;
- Setelah adonan tersebut masak, saring dengan kain saring.
Hasil saringan yang diperoleh merupakan kecap yang siap untuk
dibitilkan.
Catatan :
- Pemberian jamur harus sesuai jumlahnya dengan banyaknya
kedelai, agar tidak menimbulkan kegagalan jamur yang tumbuh.
- Setelah direbus dan ditiriskan, kedelai harus didinginkan
dengan sempurna.Bila tidak, jamur yang ditebarkan diatasnya
akan mati.
- Bahan baku untuk pembuatan kecap, selain dari kacang kedelai dapat juga dari biji kecipir, dengan proses pembuatan yang sama.
- Pemberian jamur harus sesuai jumlahnya dengan banyaknya
kedelai, agar tidak menimbulkan kegagalan jamur yang tumbuh.
- Cuci kedelai dan rendam dalam 3 liter air selama satu malam.
Kemudian rebus sampai kulit kedelai menjadi lunak, lalu tiriskan
di atas tampah dan
- DIAGRAM ALIR PEMBUATAN KECAP KEDELAI
- DAFTAR PUSTAKA
- Astawan, M dan Mita W, Teknologi pengolahan pangan nabati
tepat guna. Jakarta : Akademika Pressindo, 1991. Hal 122-125.
- Cara pembuatan kecap. Jakarta : Proyek Peningkatan kesadaran
Masyarakat Atas Kelestarian Kualitas Lingkungan Hidup, 1975.
3 hal.
- Soedjarwo, E. Kecap kecipir. Jakarta : PT. Penebar Swadaya, 1982. 16 hal.
- Astawan, M dan Mita W, Teknologi pengolahan pangan nabati
tepat guna. Jakarta : Akademika Pressindo, 1991. Hal 122-125.
- KONTAK HUBUNGAN
Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan, PDII, LIPI, Jl.
Jend. Gatot Subroto 10 Jakarta 12910.
Sumber : Tri Margono, Detty Suryati, Sri Hartinah, Buku Panduan Teknologi Pangan, Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI bekerjasama dengan Swiss Development Cooperation, 1993.
-
PENDAHULUAN
Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang
tanah, biji kecipir, koro, kelapa dan lain-lain merupakan bahan
pangan sumber protein dan lemak nabati yang sangat penting peranannya
dalam kehidupan. Asam amino yang terkandung dalam proteinnya
tidak selengkap protein hewani, namun penambahan bahan lain
seperti wijen, jagung atau menir adalah sangat baik untuk menjaga
keseimbangan asam amino tersebut.
Kacang-kacangan dan umbi-umbian cepat sekali terkena jamur (aflatoksin) sehingga mudah menjadi layu dan busuk. Untuk mengatasi masalah ini, bahan tersebut perlu diawetkan. Hasil olahannya dapat berupa makanan seperti keripik, tahu dan tempe, serta minuman seperti bubuk dan susu kedelai.
Kedelai mengandung protein 35 % bahkan pada varitas unggul kadar proteinnya dapat mencapai 40 - 43 %. Dibandingkan dengan beras, jagung, tepung singkong, kacang hijau, daging, ikan segar, dan telur ayam, kedelai mempunyai kandungan protein yang lebih tinggi, hampir menyamai kadar protein susu skim kering.
Bila seseorang tidak boleh atau tidak dapat makan daging atau sumber protein hewani lainnya, kebutuhan protein sebesar 55 gram per hari dapat dipenuhi dengan makanan yang berasal dari 157,14 gram kedelai.
Kedelai dapat diolah menjadi: tempe, keripik tempe, tahu, kecap, susu, dan lain-lainnya. Proses pengolahan kedelai menjadi berbagai makanan pada umumnya merupakan proses yang sederhana, dan peralatan yang digunakan cukup dengan alat-alat yang biasa dipakai di rumah tangga, kecuali mesin pengupas, penggiling, dan cetakan.
Tabel 1. Komposisi Kedelai per 100 gram Bahan KOMPONEN KADAR (%) Protein 35-45 Lemak 18-32 Karbohidrat 12-30 Air 7.
Pembuatan tempe secara tradisional biasanya menggunakan tepung tempe yang dikeringkan di bawah sinar matahari. Sekarang pembuatan tempe ada juga yang menggunakan ragi tempe. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada proses pengolahan tempe agar diperoleh hasil yang baik ialah:Tabel 2. Perbandingan Antara Kadar Protein Kedelai Dengan Beberapa Bahan Makanan Lain BAHAN MAKANAN PROTEIN (% BERAT) Susu skim kering 36,00 Kedelai 35,00 Kacang hijau 22,00 Daging 19,00 Ikan segar 17,00 Telur ayam 13,00 Jagung 9,20 Beras 6,80 Tepung singkong 1,10
- Kedelai harus dipilih yang baik (tidak busuk) dan tidak kotor;
- Air harus jernih, tidak berbau dan tidak mengandung kuman
penyakit;
- Cara pengerjaannya harus bersih;
- Bibit tempe (ragi tempe) harus dipilih yang masih aktif (bila diremas membentuk butiran halus atau tidak menggumpal).
- BAHAN
- Kedelai 10 kg
- Ragi tempe 20 gram (10 lempeng)
- Air secukupnya
- Kedelai 10 kg
- ALAT
- Tampah besar
- Ember
- Keranjang
- Rak bambu
- Cetakan
- Pengaduk kayu
- Dandang
- Karung goni
- Tungku atau kompor
- Daun pisang atau plastik
- CARA PEMBUATAN
-
Bersihkan kedelai kemudian rendam satu malam supaya kulitnya mudah lepas;DIAGRAM ALIR PEMBUATAN TEMPE
- Kupas kulit arinya dengan cara diinjak-injak. Bila ada,
dapat menggunakan mesin pengupas kedelai;
- Setelah dikupas dan dicuci bersih, kukus dalam dandang selama 1 jam. Kemudian angkaat dan dinginkan dalam tampah besar;
- Setelah dingin, dicampur dengan ragi tempe sebanyak 20
gram;
- Masukkan campuran tersebut dalam cetakan yang dialasi plastik
atau dibungkus dengan daun pisang. Daun atau plastik dilubangi
agar jamur tempe mendapat udara dan dapat tumbuh dengan baik;
- Tumpuk cetakan dan tutup dengan karung goni supaya menjadi
hangat. Setelah 1 malam jamur mulai tumbuh dan keluar panas;
- Ambil cetakan-cetakan tersebut dan letakkan diatas rak,
berjajar satu lapis dan biarkan selama 1 malam;
- Keluarkan tempe dari cetakannya.
Catatan:
- Ruangan untuk membuat tempe harus bersih dan tidak harus terbuat dari tembok. Ruangan untuk pemeraman diberi jendela, agar udara dapat diatur dengan membuka atau menutup jendela tersebut. Di waktu musim hujan ruangan ini perlu diberi lampu agar suhu ruangan tidak terlalu dingin.
- Tempe mudah busuk setelah disimpan 2 ½ hari
dalam keadaan terbungkus, oleh karena itu perlu diawetkan
secara kering dengan cara sebagai berikut :
- Iris tempe dengan ketebalan ± ½ mm, keringkan dalam oven pada suhu 75 0 C selama 55 menit. Dengan cara pengawetan seperti ini produk tempe awetan yang dihasilkan tahan disimpan selama 3 sampai 5 minggu.
- Kandungan protein dan lemak tempe kedelai, masing-masing sebesar 22,5% dan 18%. Kebutuhan protein sebesar 55g/hari dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi tempe sebanyak 244,44 gram.
-
- DAFTAR PUSTAKA
- Astawan, M. dan Mita W. Teknologi pengolahan pangan nabati
tepat guna. Jakarta : Akademika Pressindo, 1991. Hal. 94-96.
- Buku seri teknologi makanan II. Bogor : Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor, 1983. Hal. 39-45.
- Sarwono, B. Membuat tempe dan oncom. Jakarta : PT. Penebar
Swadaya, 1982. Hal. 10-15.
- Tri Radiyati et.al. Pengolahan Kedelai. Subang: BPTTG Puslitbang Fisika Terapan – LIPI, 1992. Hal. 1-5.
- Astawan, M. dan Mita W. Teknologi pengolahan pangan nabati
tepat guna. Jakarta : Akademika Pressindo, 1991. Hal. 94-96.
- KONTAK HUBUNGAN
Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan, PDII, LIPI, Jl. Jend.
Gatot Subroto 10 Jakarta 12910.
Sumber : Tri Margono, Detty Suryati, Sri Hartinah, Buku Panduan Teknologi Pangan, Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI bekerjasama dengan Swiss Development Cooperation, 1993.
Langganan:
Postingan (Atom)





