Recent Articles
Home » Posts filed under Perikanan
Tampilkan postingan dengan label Perikanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perikanan. Tampilkan semua postingan
1. SEJARAH SINGKAT
Ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar
dengan bentuk tubuh memanjang dan pipih kesamping dan warna putih
kehitaman. Ikan nila berasal dari Sungal Nil dan danau-danau sekitarnya.
Sekarang ikan ini telah tersebar ke negara-negara di lima benua
yang beriklim tropis dan subtropis. Sedangkan di wilayah yang beriklim
dingin, ikan nila tidak dapat hidup baik Ikan nila disukai oleh
berbagai bangsa karena dagingnya enak dan tebal seperti daging ikan
kakap merah. Bibit ikan didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh
Balai Penelitian Perikanan Air Tawar pada tahun 1969. Setelah melalui
masa penelitian dan adaptasi, barulah ikan ini disebarluaskan kepada petani di seluruh
Indonesia. Nila adalah nama khas Indonesia yang diberikan oleh Pemerintah
melalui Direktur Jenderal Perikanan.
2. SENTRA PERIKANAN
Di Indonesia ikan nila telah dibudidayakan di seluruh
propinsi.
3. JENIS
Klasifikasi ikan nila adalah sebagai berikut:
Kelas : Osteichthyes
Sub-kelas : Acanthoptherigii
Crdo : Percomorphi
Sub-ordo : Percoidea
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus.
Terdapat 3 jenis nila yang dikenal, yaitu: nila biasa, nila merah (nirah) dan nila albino.
Sub-kelas : Acanthoptherigii
Crdo : Percomorphi
Sub-ordo : Percoidea
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus.
Terdapat 3 jenis nila yang dikenal, yaitu: nila biasa, nila merah (nirah) dan nila albino.
4. MANFAAT
Sebagai sumber penyediaan protein hewani.
5. PERSYARATAN LOKASI
- Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah
liat/lempung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan
massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
- Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara
3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
- Ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi (500 m dpl).
- Kualitas air untuk pemeliharaan ikan nila harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kekeruhan air yang disebabkan oleh pelumpuran akan memperlambat pertumbuhan ikan. Lain halnya bila kekeruhan air disebabkan oleh adanya plankton. Air yang kaya plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau kecokelatan karena banyak mengandung Diatomae. Sedangkan plankton/alga biru kurang baik untuk pertumbuhan ikan. Tingkat kecerahan air karena plankton harus dikendalikan yang dapat diukur dengan alat yang disebut piring secchi (secchi disc). Untuk di kolam dan tambak, angka kecerahan yang baik antara 20-35 cm.
- Debit air untuk kolam air tenang 8-15 liter/detik/ha. Kondisi
perairan tenang dan bersih, karena ikan nila tidak dapat berkembang
biak dengan baik di air arus deras.
- Nilai keasaman air (pH) tempat hidup ikan nila berkisar antara 6-8,5. Sedangkan keasaman air (pH) yang optimal adalah antara 7-8.
- Suhu air yang optimal berkisar antara 25-30 derajat C.
- Kadar garam air yang disukai antara 0-35 per mil.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
- Penyiapan Sarana dan Peralatan
- Kolam
Sarana berupa kolam yang perlu disediakan dalam usaha budidaya ikan nila tergantung dari sistim pemeliharaannya (sistim 1 kolam, 2 kolam dlsb).
Adapun jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan nila antara lain:
- Kolam pemeliharaan induk/kolam pemijahan Kolam ini
berfungsi sebagai kolam pemijahan, kolam sebaiknya berupa
kolam tanah yang luasnya 50-100 meter persegi dan kepadatan
kolam induk hanya 2 ekor/m 2 . Adapun syarat kolam pemijahan
adalah suhu air berkisar antara 20-22 derajat C; kedalaman
air 40-60 cm; dasar kolam sebaiknya berpasir.
- Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan
Luas kolam tidak lebih dari 50-100 meter persegi. Kedalaman air kolam antara 30-50 cm. Kepadatan sebaiknya 5-50 ekor/meter persegi. Lama pemeliharaan di dalam kolam pendederan/ipukan antara 3-4 minggu, pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm.
- Kolam pembesaran
Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Adakalanya dalam pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam pembesaran, yaitu:- Kolam pembesaran tahap I berfungsi untuk memelihara
benih ikan selepas dari kolam pendederan. Kolam ini
sebaiknya berjumlah antara
2-4 buah dengan luas maksimum 250-500 meter persegi/kolam. Pembesaran tahap I ini tidak dianjurkan memakai kolam semen, sebab
benih ukuran ini memerlukan ruang yang luas. Setelah benih menjadi gelondongan kecil maka benih memasuki pembesaran tahap kedua
atau langsung dijual kepada pera petani. - Kolam pembesaran tahap II berfungsi untuk memelihara
benih gelondongan besar. Kolam dapat berupa kolam
tanah atau sawah. Keramba apung juga dapat digunakan dengan mata jaring
1,25–1,5 cm. Jumlah penebaran pembesaran tahap
II sebaiknya tidak lebih dari 10 ekor/meter persegi.
- Pembesaran tahap III berfungsi untuk membesarkan benih. Diperlukan kolam tanah antara 80-100 cm dengan luas 500-2.000 meter persegi.
- Kolam pembesaran tahap I berfungsi untuk memelihara
benih ikan selepas dari kolam pendederan. Kolam ini
sebaiknya berjumlah antara
- Kolam/tempat pemberokan
Pembesaran ikan nila dapat pula dilakukan di jaring apung, berupa Hapa berukuran 1 x 2 m sampai 2 x 3 m dengan kedalaman 75-100 cm. Ukuran hapa dapat disesuaikan dengan kedalaman kolam. Selain itu sawah yang sedang diberokan dapat dipergunakan pula untuk pemijahan dan pemeliharaan benih ikan nila. Sebelum digunakan petak sawah diperdalam dahulu agar dapat menampung air sedalam 50-60 cm, dibuat parit selebar 1 - 1,5 m dengan kedalaman 60-75 cm.
- Kolam pemeliharaan induk/kolam pemijahan Kolam ini
berfungsi sebagai kolam pemijahan, kolam sebaiknya berupa
kolam tanah yang luasnya 50-100 meter persegi dan kepadatan
kolam induk hanya 2 ekor/m 2 . Adapun syarat kolam pemijahan
adalah suhu air berkisar antara 20-22 derajat C; kedalaman
air 40-60 cm; dasar kolam sebaiknya berpasir.
- Peralatan
Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan nila diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, ember-ember, baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (kg), cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar kekeruhan. Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan nila antara lain adalah warring/scoopnet yang halus, ayakan panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat penempelan telur yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan penyabetan dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi), scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas), seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi). - Persiapan Media
Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dlsb. Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi, diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing dengan dosis 50-700 gram/meter persegi, bisa juga ditambahkan pupuk buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing dengan dosis 15 gram dan 10 gram/meter persegi.
- Kolam
- Pembibitan
- Pemilihan Bibit dan Induk
Ciri-ciri induk bibit nila yang unggul adalah sebagai berikut:
- Mampu memproduksi benih dalam jumlah yang besar dengan
kwalitas yang tinggi.
- Pertumbuhannya sangat cepat.
- Sangat responsif terhadap makanan buatan yang diberikan.
- Resisten terhadap serangan hama, parasit dan penyakit.
- Dapat hidup dan tumbuh baik pada lingkungan perairan
yang relatif buruk.
- Ukuran induk yang baik untuk dipijahkan yaitu 120-180
gram lebih per ekor dan berumur sekitar 4-5 bulan.
Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah sebagai berikut:
- Betina
- Terdapat 3 buah lubang pada urogenetial yaitu:
dubur, lubang pengeluaran telur dan lubang urine.
- Ujung sirip berwarna kemerah-merahan pucat
tidak jelas.
- Warna perut lebih putih.
- Warna dagu putih.
- Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.
- Terdapat 3 buah lubang pada urogenetial yaitu:
dubur, lubang pengeluaran telur dan lubang urine.
- Jantan
- Pada alat urogenetial terdapat 2 buah lubang
yaitu: anus dan lubang sperma merangkap lubang
urine.
- Ujung sirip berwarna kemerah-merahan terang
dan jelas.
- Warna perut lebih gelap/kehitam-hitaman.
- Warna dagu kehitam-hitaman dan kemerah-merahan.
- Jika perut distriping mengeluarkan cairan.
Ikan nila sangat mudah kawin silang dan bertelur secara liar. Akibatnya, kepadatan kolam meningkat. Disamping itu, ikan nila yang sedang beranak lambat pertumbuhan sehingga diperlukan waktu yang lebih lama agar dicapai ukuran untuk dikonsumsi yang diharapkan. Untuk mengatasi kekurangan ikan nila di atas, maka dikembang metode kultur tunggal kelamin (monoseks). Dalam metode ini benih jantan saja yang dipelihara karena ikan nila jantan yang tumbuh lebih cepat dan ikan nila betina. Ada empat cara untuk memproduksi benih ikan nila jantan yaitu:
- Secara manual (dipilih)
- Sistem hibridisasi antarjenis tertentu
- Merangsang perubahan seks dengan hormon
- Teknik penggunaan hormon seks jantan ada
dua cara.
- Perendaman
- Perlakuan hormon melalui pakan
- Perendaman
- Secara manual (dipilih)
- Pada alat urogenetial terdapat 2 buah lubang
yaitu: anus dan lubang sperma merangkap lubang
urine.
- Betina
- Mampu memproduksi benih dalam jumlah yang besar dengan
kwalitas yang tinggi.
- Pembenihan dan Pemeliharaan Benih
Pada usaha pembenihan, kegiatan yang dilakukan adalah :
- Memelihara dan memijahkan induk ikan untuk menghasilkan
burayak (anak ikan).
- Memelihara burayak (mendeder) untuk menghasilkan benih
ikan yang lebih besar. Usaha pembenihan biasanya menghasilkan
benih yang berbeda-beda ukurannya. Hal ini berkaitan dengan
lamanya pemeliharaan benih. Benih ikan nila yang baru
lepas dan mulut induknya disebut "benih kebul".
Benih yang berumur 2-3 minggu setelah menetas disebut
benih kecil, yang disebut juga putihan (Jawa Barat). Ukurannya
3-5 cm. Selanjutnya benih kecil dipelihara di kolam lain
atau di sawah. Setelah dipelihara selama 3-1 minggu akan
dihasilkan benih berukuran 6 cm dengan berat 8-10 gram/ekor.
Benih ini disebut gelondongan kecil. Benih nila merah.
Berumur 2-3 minggu, ukurannya ± 5 cm. Gelondongan
kecil dipelihara di tempat lain lagi selama 1- 1,5 bulan.
Pada umur ini panjang benih telah mencapai 10-12 cm dengan
berat 15-20 gram. Benih ini disebut gelondongan besar.
- Memelihara dan memijahkan induk ikan untuk menghasilkan
burayak (anak ikan).
- Pemeliharaan Pembesaran
Dua minggu sebelum dan dipergunakan kolam harus dipersiapkan. Dasar kolam dikeringkan, dijemur beberapa hari, dibersihkan dari rerumputan dan dicangkul sambil diratakan. Tanggul dan pintu air diperbaiki jangan sampai teriadi kebocoran. Saluran air diperbaiki agar jalan air lancar. Dipasang saringan pada pintu pemasukan maupun pengeluaran air. Tanah dasar dikapur untuk memperbaiki pH tanah dan memberantas hamanya. Untuk mi dipergunakan kapur tohor sebanyak 100-300 kg/ha (bila dipakai kapur panas, Ca 0). Kalau dipakai kapur pertanian dosisnya 500-1.000 kg/ha. Pupuk kandang ditabur dan diaduk dengan tanah dasar kolam. Dapat juga pupuk kandang dionggokkan di depan pintu air pemasukan agar bila diairi dapat tersebar merata. Dosis pupuk kandang 1-2 ton/ha. Setelah semuanya siap, kolam diairi. Mula-mula sedalam 5-10 cm dan dibiarkan 2-3 hari agar teriadi mineralisasi tanah dasar kolam.Lalu tambahkan air lagi sampai kedalaman 80-100 cm. Kini kolam siap untuk ditebari induk ikan.- Pemupukan
Pemupukan dengan jenis pupuk organik, anorganik (Urea dan TSP), serta kapur. Cara pemupukan dan dosis yang diterapkan sesuai dengan standar yang ditentukan oleh dinas perikanan daerah setempat, sesuai dengan tingkat kesuburan di tiap daerah. Beberapa hari sebelum penebaran benih ikan, kolam harus dipersiapkan dahulu. Pematang dan pintu air kolam diperbaiki, kemudian dasar kolam dicangkul dan diratakan. Setelah itu, dasar kolam ditaburi kapur sebanyak 100-150 kg/ha. Pengapuran berfungsi untuk menaikkan nilai pH kolam menjadi 7,0-8,0 dan juga dapat mencegah serangan penyakit. Selanjutnya kolam diberi pupuk organik sebanyak 300-1.000 kg/ha. Pupuk Urea dan TSP juga diberikan sebanyak 50 kg/ha. Urea dan TSP diberikan dengan dicampur terlebih dahulu dan ditebarkan merata di dasar kolam. Selesai pemupukan kalam diairi sedalam 10 cm dan dibiarkan 3-4 hari agar terjadi reaksi antara berbagai macam pupuk dan kapur dengan tanah. Han kelima air kolam ditambah sampai menjadi sedalam 50 cm. Setelah sehari semalam, air kolam tersebut ditebari benih ikan. Pada saat itu fitoplankton mulai tumbuh yang ditandai dengan perubahan warna air kolam menjadi kuning kehijauan. Di dasar kolam juga mulai banyak terdapat organisme renik yang berupa kutu air, jentik-jentik serangga, cacing, anak-anak siput dan sebagainya. Selama pemeliharaan ikan, air kolam diatur sedalam 75- 100 cm. Pemupukan susulan harus dilakukan 2 minggu sekali, yaitu pada saat makanan alami sudah mulai habis. Pupuk susulan ini menggunakan pupuk organik sebanyak 500 kglha. Pupuk itu dibagi menjadi empat dan masing-masing dimasukkan ke dalam keranjang bambu. Kemudian keranjang diletakkan di dasar kolam, dua bush di kin dan dua buah di sisi kanan aliran air masuk. Sedangkan yang dua keranjang lagi diletakkan di sudut-sudut kolam. Urea dan TSP masing-masing sebanyak 30 kg/ha diletakkan di dalam kantong plastik yang diberi lubang-lubang kecil agar pupuk sedikit demi sedikit. Kantong pupuk tersebut digantungkan sebatang bambu yang dipancangkan di dasar kolam. Posisi ng terendam tetapi tidak sampai ke dasar kolam. Selain pukan ulang. ikan nila juga harus tetap diberi dedak dan katul. pemupukan di atas dapat dilakukan untuk kolam air tawar, payau atau sawah yang diberakan. - Pemberian Pakan
Pemupukan kolam telah merangsang tumbuhnya fitoplankton, zooplankton, maupun binatang yang hidup di dasar, seperti cacing, siput, jentik-jentik nyamuk dan chironomus (cuk). Semua itu dapat menjadi makanan ikan nila. Namun, induk ikan nila juga masih perlu pakan tambahan berupa pelet yang mengandung protein 30-40% dengan kandungan lemak tidak lebih dan 3%. Pembentukan telur pada ikan memerlukan bahan protein yang cukup di dalam pakannya. Perlu pula ditambahkan vitamin E dan C yang berasal dan taoge dan daun-daunan/sayuran yang duris-iris. Boleh juga diberi makan tumbuhan air seperti ganggeng (Hydrilla). Banyaknya pelet sebagai pakan induk kira-kira 3% berat biomassa per han. Agar diketahui berat bio massa maka diambil sampel 10 ekor ikan, ditimbang, dan dirata-ratakan beratnya. Berat rata-rata yang diperoleh dikalikan dengan jumlah seluruh ikan di dalam kolam. Misal, berat rata-rata ikan 220 gram, jumlah ikan 90 ekor maka berat biomassa 220 x 90 = 19.800 g. Jumlah ransum per han 3% x 19.800 gram = 594 gram. Ransum ini diberikan 2-3 kali sehari. Bahan pakan yang banyak mengandung lemak seperti bungkil kacang dan bungkil kelapa tidak baik untuk induk ikan. Apalagi kalau han tersebut sudah berbau tengik. Dedak halus dan bekatul boleh diberikan sebagai pakan. Bahan pakan seperti itu juga berfungsi untuk menambah kesuburan kolam.
- Pemeliharaan Kolam/Tambak
Sistem dan intensitas pemeliharaan ikan nila tergantung pada tempat pemeliharaan dan input yang tersedia.Target produksi harus disesuaikan dengan permintaan pasar. Biasanya konsumen menghendaki jumlah dan ukuran ikan yang berbeda-beda. Intensitas usaha dibagi dalam tiga tingkat, yaitu
- Sistem ekstenslf (teknologi sederhana)
- Sistem ekstensif merupakan sistem pemeliharaan
ikan yang belum berkembang. Input produksinya
sangat sederhana. Biasanya dilakukan di kolam
air tawar. Dapat pula dilakukan di sawah. Pengairan
tergantung kepada musim hujan. Kolam yang digunakan
biasanya kolam pekarangan yang sempit. Hasil ikannya
hanya untuk konsumsi keluarga sendiri. Sistem
pemeliharaannya secara polikultur. Sistem ini
telah dipopulerkan di wilayah desa miskin.
- Pemupukan tidak diterapkan secara khusus. Ikan
diberi pakan berupa bahan makanan yang terbuang,
seperti sisa-sisa dapur limbah
pertanian (dedak, bungkil kelapa dll.). - Perkiraan pemanenan tidak tentu. Ikan yang sudah agak besar dapat dipanen sewaktu-waktu. Hasil pemeliharaan sistem ekstensif sebenar cukup lumayan, karena pemanenannya bertahap. Untuk kolam herukuran 2 x 1 x 1 m ditebarkan benih ikan nila sebanyak 20 ruang berukuran 30 ekor. Setelah 2 bulan diambil 10 ekor, dipelihara 3 bulan kemudian beranak, demikian seterus. Total produksi sistem ini dapat mencapai 1.000 kg/ha/tahun 2 bln. Penggantian air kolam menggunakan air sumur. Penggantian dilakukan seminggu sekali.
- Sistem ekstensif merupakan sistem pemeliharaan
ikan yang belum berkembang. Input produksinya
sangat sederhana. Biasanya dilakukan di kolam
air tawar. Dapat pula dilakukan di sawah. Pengairan
tergantung kepada musim hujan. Kolam yang digunakan
biasanya kolam pekarangan yang sempit. Hasil ikannya
hanya untuk konsumsi keluarga sendiri. Sistem
pemeliharaannya secara polikultur. Sistem ini
telah dipopulerkan di wilayah desa miskin.
- Sistem semi-Intensif (teknologi madya)
- Pemeliharaan semi-intensif dapat dilakukan di kolam, di tambak, di sawah, dan di jaring apung. Pemeliharaan ini biasanya digunakan untuk pendederan. Dalam sistem ini sudah dilakukan pemupukan dan pemberian pakan tambahan yang teratur.
- Prasarana berupa saluran irigasi cukup baik
sehingga kolam dapat berproduksi 2-3 kali per
tahun. Selain itu, penggantian air juga dapat
dilakukan secara rutin. Pemeliharaan ikan di sawah hanya membutuhkan waktu 2-2,5 bulan karena bersamaan dengan tanaman padi atau sebagai penyelang. OIeh karena itu, hasil ikan dan sawah ukurannya tak lebih dari 50 gr. Itu pun kalau benih yang dipelihara sudah berupa benih gelondongan besar.
- Budi daya ikan nila secara semi-intensif di kolam dapat dilakukan secara monokultur maupun secara polikultur. Pada monokultur sebaiknya dipakai sistem tunggal kelamin. Hal mi karena nila jantan lebih cepat tumbuh dan ikan nila betina.
- Sistem semi-intensif juga dapat dilakukan secara terpadu (intergrated), artinya kolam ikan dikelola bersama dengan usaha tani lain maupun dengan industri rumah tangga. Misal usaha ternak kambing, itik dan sebagainya. Kandang dibuat di atas kolam agar kotoran ternak menjadi pupuk untuk kolam.
- Usaha tani kangkung, genjer dan sayuran lainnya
juga dapat dipelihara bersama ikan nila. Limbah
sayuran menjadi pupuk dan pakan tambahan bagi
ikan. Sedangkan lumpur yang kotor dan kolam ikan
dapat menjadi pupuk bagi kebun sayuran.
- Usaha huler/penggilingan padi mempunyai hasil
sampingan berupa dedak dan katul. Oleh karena
itu, sebaiknya dibangun kolam ikan di
dekat penggilingan tersebut.
- Hasil penelitian Balai Penelitian Perikanan
sistem integrated dapat menghasilkan ikan sampai
5 ton atau lebih per 1 ha/tahun.
- Sistem intensif (teknologi maju)
- Sistem pemeliharaan intensif adalah sistem
pemeliharaan ikan paling modern. Produksi ikan
tinggi sampai sangat tinggi disesuaikan dengankebutuhan
pasar.
- Pemeliharaan dapat dilakukan di kolam atau
tambak air payau dan pengairan yang baik. Pergantian
air dapat dilakukan sesering mungkin sesuai dengan
tingkat kepadatan ikan. Volume air yang diganti
setiap hari sebanyak 20% atau bahkan lebih.
- Pada usaha intensif, benih ikan nita yang dipelihara
harus tunggal dain jantan saja. Pakan yang diberikan
juga harus bermutu.
- Ransum hariannya 3% dan berat biomassa ikan
per hari. makanan sebaiknya berupa pelet yang
berkadar protein 25-26%, lemak 6-8%. Pemberian
pakan sebaiknya dilakukan oleh teknisinya sendiri
dapat diamati nafsu makan ikan-ikan itu. Pakan
yang diberikan knya habis dalam waktu 5 menit.
Jika pakan tidak habis dalam waktu 5 menit berarti
ikan mendapat gangguan. Gangguan itu berupa serangan
penyakit, perubahan kualitas air, udara panas,
terlalu sering diberi pakan.
- Sistem pemeliharaan intensif adalah sistem
pemeliharaan ikan paling modern. Produksi ikan
tinggi sampai sangat tinggi disesuaikan dengankebutuhan
pasar.
- Sistem ekstenslf (teknologi sederhana)
- Pemupukan
- Pemilihan Bibit dan Induk
7. HAMA DAN PENYAKIT
- Hama
- Bebeasan (Notonecta)
Berbahaya bagi benih karena sengatannya. Pengendalian: menuangkan minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi. - Ucrit (Larva cybister)
Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendalian: sulit diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.
- Kodok
Makan telur telur ikan. Pengendalian: sering membuang telur yang mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.
- Ular
Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendalian: lakukan penangkapan; pemagaran kolam.
- Lingsang
Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun.
- Burung
Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning.
Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi
rumbai-rumbai atau tali penghalang.
- Bebeasan (Notonecta)
- Penyakit
- Penyakit pada kulit
Gejala: pada bagian tertentu berwarna merah, berubah warna dan tubuh berlendir.
Pengendalian:- direndam dalam larutan PK (kalium permanganat) selama 30-60 menit dengan dosis 2 gram/10 liter air, pengobatan dilakukan berulang 3 hari kemudian.
- direndam dalam Negovon (kalium permanganat) selama 3 menit dengan dosis 2-3,5 %.
- Penyakit pada insang
Gejala: tutup insang bengkak, Lembar insang pucat/keputihan.
Pengendalian: sama dengan di atas.
- Penyakit pada organ dalam
Gejala: perut ikan bengkak, sisik berdiri, ikan tidak gesit.
Pengendalian: sama dengan di atas.
- Penyakit pada kulit
Secara umum hal-hal yang dilakukan untuk dapat mencegah timbulnya
penyakit dan hama pada budidaya ikan nila:
- Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.
- Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.
- Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.
- Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam
diberi satu pintu pemasukan air.
- Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.
- Penanganan saat panen atau pemindahan benih hendaknya dilakukan
secara hati-hati dan benar.
- Binatang seperti burung, siput, ikan seribu (lebistus reticulatus
peters) sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal
perkolaman.
8. PANEN
Pemanenan ikan nila dapat dilakukan dengan cara: panen total dan
panen sebagian.
- Panen total
Panen total dilakukan dengan cara mengeringkan kolam, hingga ketinggian air tinggal 10 cm. Petak pemanenan/petak penangkapan dibuat seluas 1 m persegi di depan pintu pengeluaran (monnik), sehingga memudahkan dalam penangkapan ikan. Pemanenan dilakukan pagi hari saat keadaan tidak panas dengan menggunakan waring atau scoopnet yang halus. Lakukan pemanenan secepatnya dan hati-hati untuk menghindari lukanya ikan.
- Panen sebagian atau panen selektif
Panen selektif dilakukan tanpa pengeringan kolam, ikan yang akan dipanen dipilih dengan ukuran tertentu. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan waring yang di atasnya telah ditaburi umpan (dedak). Ikan yang tidak terpilih (biasanya terluka akibat jaring), sebelum dikembalikan ke kolam sebaiknya dipisahkan dan diberi obat dengan larutan malachite green 0,5-1,0 ppm selama 1 jam.
9. PASCAPANEN
Penanganan pascapanen ikan nila dapat dilakukan dengan cara penanganan
ikan hidup maupun ikan segar.
- Penanganan ikan hidup
Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:- Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar
20 derajat C.
- Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.
- Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu
padat.
- Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar
20 derajat C.
- Penanganan ikan segar
Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:
- Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak
luka.
- Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.
- Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan
jarak dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang
yang dilapisi dengan
daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi kotak maksimum 50 cm.
- Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu
6-7 derajat C.
Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian
ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian
juga antara ikan dengan penutup kotak.
- Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak
luka.
- Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan
benih adalah sebagai berikut:
- Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit,
parasit dan tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan
ke dalam kantong plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
- Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat,
bebas hama dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai
contoh dapat digunakan air sumur yang telah diaerasi semalam.
- Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama
beberapa hari. Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi
air bersih dan dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan
ukuran 1 m x 1 m atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut,
bak pemberokan dapat menampung benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor
dengan ukuran 3-5 cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus
disesuaikan dengan ukuran benihnya.
- Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan
benih terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
- Sistem terbuka
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba. Setiap keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm. - Sistem tertutup
Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer Na2(hpo)4.1H2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang diangkut dengan kantong plastik:- masukkan air bersih ke dalam kantong plastik kemudian benih;
- hilangkan udara dengan menekan kantong plastik ke permukaan air;
- alirkan oksigen dari tabung dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga (air:oksigen=1:2);
- kantong plastik lalu diikat.
- kantong plastik dimasukkan ke dalam dos dengan
posisi membujur atau ditidurkan. Dos yang berukuran
panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m dapat
diisi 2 buah kantong plastik. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan setelah benih sampai di tempat tujuan
adalah sebagai berikut:
- Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom
(1 kapsul tertasiklin dalam 10 liter air bersih).
- Buka kantong plastik, tambahkan air bersih
yang berasal dari kolam setempat sedikit demi
sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong
plastik terjadi perlahan-lahan.
- Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi
larutan tetrasiklin selama 1- 2 menit.
- Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan.
Dalam bak pemberokan benih ikan diberi pakan secukupnya.
Selain itu, dilakukan pengobatan dengan tetrasiklin
25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli
dapat juga digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak
20 ppm atau formalin sebanyak 4% selama 3-5 menit.
- Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.
- Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom
(1 kapsul tertasiklin dalam 10 liter air bersih).
- Sistem terbuka
- Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit,
parasit dan tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan
ke dalam kantong plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
- Analisa Usaha Budidaya
Perkiraan analisis usaha budidaya ikan nila selama 1 bulan pada tahun 1999 di daerah Jawa Barat adalah sebagai berikut:
- Biaya produksi
- Sewa kolam Rp. 120.000,-
- Benih ikan nila 4000 ekor, @ Rp.200,- Rp. 800.000,-
- Pakan
- Dedak 8 karung @ Rp.800,- Rp. 6.400,-
- Obat dan pupuk
- Kotoran ayam 4 karung, @ Rp.7.000,- Rp. 28.000,-
- Urea dan TSP 10 kg, @ Rp.1.800,- Rp. 18.000,-
- Kapur 30 kg, @ Rp. 1.200,- Rp. 36.000,-
- Peralatan Rp. 100.000,-
- Tenaga kerja 1 orang @ Rp. 7500,- Rp. 225.000,-
- Biaya tak terduga 10% Rp. 133.340,-
Jumlah biaya produksi Rp.1.466.740,-
- Pendapatan benih ikan 85%,4000 ekor @ Rp.700,- Rp.2.380.000,-
- Keuntungan Rp. 913.260,-
- Parameter kelayakan usaha : B/C ratio 1,62
- Biaya produksi
- Gambaran Peluang Agribisnis
Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai, rawa, danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha merupakan potensi alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha perikanan di Indonesia. Disamping itu banyak potensi pendukung lainnya yang dilaksanakan oleh pemerintah dan swasta dalam hal permodalan, program penelitian dalam hal pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca panen, penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan import. Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan nila dan ikan air tawar lainnya selalu mengalami pasang surut, namun dilihat dari jumlah hasil penjualan secara rata-rata selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Apabila pasaran lokal ikan nila mengalami kelesuan, maka akan sangat berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat grosir di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan nila boleh dikatakan hampir tak ada masalah, prospeknya cukup baik. Selain adanya potensi pendukung dan faktor permintaan komoditi perikanan untuk pasaran lokal, maka sektor perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang cerah.
11. DAFTAR PUSTAKA
- Sugiarto Ir, 1988, Teknik Pembenihan Ikan Mujair dan Nila.
Penerbit CV. Simplex (Anggota IKAPI)”.
- Rahardi, F. 1993. Kristiawati, Regina. Nazaruddin. Agribisnis
Perikanan, Penerbit Swadaya, Jakarta.
12. KONTAK HUBUNGAN
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS;
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas
1. SEJARAH SINGKAT
Belut merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan
bentuk tubuh bulat memanjang yang hanya memiliki sirip punggung
dan tubuhnya licin. Belut suka memakan anak-anak ikan yang masih
kecil. Biasanya hidup di sawah-sawah, di rawa-rawa/lumpur dan di
kali-kali kecil. Di Indonesia sejak tahun 1979, belut mulai dikenal
dan digemari, hingga saat ini belut banyak dibudidayakan dan menjadi
salah satu komoditas ekspor.
2. SENTRA PERIKANAN
Sentra perikanan belut Internasional terpusat di Taiwan,
Jepang, Hongkong, Perancis dan Malaysia. Sedangkan sentra perikanan
belut di Indonesia berada di daerah Yogyakarta dan di daerah Jawa
Barat. Di daerah lainnya baru merupakan tempat penampungan belut-belut
tangkapan dari alam atau sebagai pos penampungan.
3. JENIS
Klasifikasi belut adalah sebagai berikut:
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Synbranchoidae
Famili : Synbranchidae
Genus : Synbranchus
Species : Synbranchus bengalensis Mc clell (belut rawa); Monopterus albus Zuieuw (belut sawah); Macrotema caligans Cant (belut kali/laut)
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Synbranchoidae
Famili : Synbranchidae
Genus : Synbranchus
Species : Synbranchus bengalensis Mc clell (belut rawa); Monopterus albus Zuieuw (belut sawah); Macrotema caligans Cant (belut kali/laut)
Jadi jenis belut ada 3 (tiga) macam yaitu belut rawa,
belut sawah dan belut kali/laut. Namun demikian jenis belut yang
sering dijumpai adalah jenis belut sawah.
4. MANFAAT
Manfaat dari budidaya belut adalah:
- Sebagai penyediaan sumber protein hewani.
- Sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
- Sebagai obat penambah darah.
5. PERSYARATAN LOKASI
- Secara klimatologis ikan belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik. Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran rendah sampai dataran tinggi. Begitu pula dengan kelembaban dan curah hujan tidak ada batasan yang spesifik.
- Kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kondisi tanah dasar kolam tidak beracun.
- Suhu udara/temperatur optimal untukpertumbuhan belut yaitu
berkisar antara 25-31 derajat C.
- Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih
dan kaya akan osigen terutama untuk bibit/benih yang masih kecil
yaitu ukuran 1-2 cm. Sedangkan untuk perkembangan selanjutnya
belut dewasa tidak memilih kualitas air dan dapat hidup di air
yang keruh.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
- Penyiapan Sarana dan Peralatan
- Perlu diketahui bahwa jenis kolam budidaya ikan belut harus
dibedakan antara lain: kolam induk/kolam pemijahan, kolam
pendederan (untuk benih belut berukuran 1-2 cm), kolam belut
remaja (untuk belut ukuran 3-5 cm) dan kolam pemeliharaan
belut konsumsi (terbagi menjadi 2 tahapan yang masing-masing
dibutuhkan waktu 2 bulan) yaitu untuk pemeliharaan belut ukuran
5-8 cm sampai menjadi ukuran 15-20 cm dan untuk pemeliharan
belut dengan ukuran 15-20 cm sampai menjadi ukuran 30-40 cm.
- Bangunan jenis-jenis kolam belut secara umum relatif sama hanya dibedakan oleh ukuran, kapasitas dan daya tampung belut itu sendiri.
- Ukuran kolam induk kapasitasnya 6 ekor/m 2 . Untuk kolam pendederan (ukuran belut 1-2 cm) daya tampungnya 500 ekor/m 2 . Untuk kolam belut remaja (ukuran 2-5 cm) daya tampungnya 250 ekor/m 2 . Dan untuk kolam belut konsumsi tahap pertama (ukuran 5-8 cm) daya tampungnya 100 ekor/m 2 . Serta kolam belut konsumsi tahap kedua (ukuran 15-20cm) daya tampungnya 50 ekor/m 2 , hingga panjang belut pemanenan kelak berukuran 3-50 cm.
- Pembuatan kolam belut dengan bahan bak dinding tembok/disemen
dan dasar bak tidak perlu diplester.
- Peralatan lainnya berupa media dasar kolam, sumber air
yang selalu ada, alat penangkapan yang diperlukan, ember plastik
dan peralatan-peralatan lainnya.
- Media dasar kolam terdiri dari bahan-bahan organik seperti pupuk kandang, sekam padi dan jerami padi. Caranya kolam yang masih kosong untuk lapisan pertama diberi sekam padi setebal 10 cm, diatasnya ditimbun dengan pupuk kandang setebal 10 cm, lalu diatasnya lagi ditimbun dengan ikatan-ikatan merang atau jerami kering. Setelah tumpukan-tumpukan bahan organik selesai dibuat (tebal seluruhnya sekitar 30 cm), berulah air dialirkan kedalam kolam secara perlahan-lahan sampai setinggi 50 cm (bahan organik + air). Dengan demikian media dasar kolam sudah selesai, tinggal media tersebut dibiarkan beberapa saat agar sampai menjadi lumpur sawah. Setelah itu belut-belut diluncurkan ke dalam kolam.
- Perlu diketahui bahwa jenis kolam budidaya ikan belut harus
dibedakan antara lain: kolam induk/kolam pemijahan, kolam
pendederan (untuk benih belut berukuran 1-2 cm), kolam belut
remaja (untuk belut ukuran 3-5 cm) dan kolam pemeliharaan
belut konsumsi (terbagi menjadi 2 tahapan yang masing-masing
dibutuhkan waktu 2 bulan) yaitu untuk pemeliharaan belut ukuran
5-8 cm sampai menjadi ukuran 15-20 cm dan untuk pemeliharan
belut dengan ukuran 15-20 cm sampai menjadi ukuran 30-40 cm.
- Penyiapan Bibit
- Menyiapkan Bibit
- Anak belut yang sudah siap dipelihara secara intensif adalah yang berukuran 5-8 cm. Di pelihara selama 4 bulan dalam 2 tahapan dengan masing-masing tahapannya selama 2 bulan.
- Bibit bisa diperoleh dari bak/kolam pembibitan atau
bisa juga bibit diperoleh dari sarang-sarang bibit yang
ada di alam.
- Pemilihan bibit bisa diperoleh dari kolam peternakan
atau pemijahan. Biasanya belut yang dipijahkan adalah
belut betina berukuran ± 30 cm dan belut jantan
berukuran ± 40 cm.
- Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan dengan kapasitas
satu ekor pejantan dengan dua ekor betina untuk kolam
seluas 1 m 2 . Waktu pemijahan kira-kira berlangsung 10
hari baru telur-telur ikan belut menetas. Dan setelah
menetas umur 5-8 hari dengan ukuran anak belut berkisar
1,5–2,5 cm. Dalam ukuran ini belut segera diambil
untuk ditempatkan di kolam pendederan calon benih/calon
bibit. Anak belut dengan ukuran sedemikian tersebut diatas
segera ditempatkan di kolam pendederan calon bibit selama
± 1 (satu) bulan sampai anak belut tersebut berukuran
5-8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa diperlihara
dalam kolam belut untuk konsumsi selama dua bulan atau
empat bulan.
- Perlakuan dan Perawatan Bibit
Dari hasil pemijahan anak belut ditampung di kolam pendederan calon benih selama 1 bulan. Dalam hal ini benih diperlakukan dengan secermat mungkin agar tidak banyak yang hilang. Dengan perairan yang bersih dan lebih baik lagi apabila di air yang mengalir.
- Menyiapkan Bibit
- Pemeliharaan Pembesaran
- Pemupukan
Jerami yang sudah lapuk diperlukan untuk membentuk pelumpuran yang subur dan pupuk kandang juga diperlukan sebagai salah satu bahan organik utama.
- Pemberian Pakan
Bila diperlukan bisa diberi makanan tambahan berupa cacing, kecoa, ulat besar(belatung) yang diberikan setiap 10 hari sekali.
- Pemberian Vaksinasi
- Pemeliharaan Kolam dan Tambak
Yang perlu diperhatikan pada pemeliharaan belut adalah menjaga kolam agar tidak ada gangguan dari luar dan dalam kolam tidak beracun.
- Pemupukan
7. HAMA DAN PENYAKIT
- Hama
- Hama pada belut adalah binatang tingkat tinggi yang langsung
mengganggu kehidupan belut.
- Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang
belut antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga,
musang air dan ikan gabus.
- Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang
sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan belut
secara intensif tidak banyak diserang hama.
- Hama pada belut adalah binatang tingkat tinggi yang langsung
mengganggu kehidupan belut.
- Penyakit
Penyakit yang umum menyerang adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.
8. PANEN
Pemanenan belut berupa 2 jenis yaitu :
- Berupa benih/bibit yang dijual untuk diternak/dibudidayakan.
- Berupa hasil akhir pemeliharaan belut yang siap dijual untuk
konsumsi (besarnya/panjangnya sesuai dengan permintaan pasar/konsumen).
Cara Penangkapan belut sama seperti menangkap ikan lainnya dengan
peralatan antara lain: bubu/posong, jaring/jala bermata lembut,
dengan pancing atau kail dan pengeringan air kolam sehingga belut
tinggal diambil saja.
9. PASCAPANEN
Pada pemeliharaan belut secara komersial dan dalam jumlah yang
besar, penanganan pasca panen perlu mendapat perhatian yang serius.
Hal ini agar belut dapat diterima oleh konsumen dalam kualitas yang
baik, sehingga mempunyai jaringan pemasaran yang luas.
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
- Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya belut selama 3 bulan di daerah Jawa Barat pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:
- Biaya Produksi
- Pembuatan kolam tanah 2 x 3 x 1, 4 HOK @ Rp.7.000,- Rp. 28.000,-
- Bibit 3.000 ekor x @ Rp. 750,- Rp. 225.000,-
- Makanan tambahan (daging kelinci 3 ekor) @ Rp.15.000,-Rp. 45.000,-
- Lain-lain Rp. 30.000,-
Jumlah Biaya Produksi Rp. 328.000,-
- Pendapatan: 3000 ekor = 300 kg x @ Rp. 2.500,- Rp. 750.000,-
- Keuntungan Rp. 422.000,-
- Parameter Kelayakan Usaha 2,28
- Biaya Produksi
10.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Budidaya ikan belut, baik dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran
mempunyai prospek yang cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan
ikan belut semakin meningkat. Dengan teknik pemeliharaan yang baik,
maka akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.
11. DAFTAR PUSTAKA
- Satwono, B. 1999. Budidaya Belut dan Tidar. Penerbit Penebar Swadaya (Anggota IKAPI). Jakarta.
- Ronni Hendrik S. 1999. Budidaya Belut. Penerbit Bhratara, Jakarta
12. KONTAK HUBUNGAN
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS;
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390
9829 Jakarta, Maret 2000
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas
1. SEJARAH SINGKAT
Lele merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan
tubuh memanjang dan kulit licin. Di Indonesia ikan lele mempunyai
beberapa nama daerah, antara lain: ikan kalang (Padang), ikan maut
(Gayo, Aceh), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling (Makasar),
ikan cepi (Bugis), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah). Sedang di
negara lain dikenal dengan nama mali (Afrika), plamond (Thailand),
ikan keli (Malaysia), gura magura (Srilangka), ca tre trang (Jepang).
Dalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish dan
walking catfish. Ikan lele tidak pernah ditemukan di air payau atau
air asin. Habitatnya di sungai
dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang
air. Ikan lele bersifat noctural, yaitu aktif bergerak mencari makanan
pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung
di tempat-tempat gelap. Di alam ikan lele memijah pada musim penghujan.
2. SENTRA PERIKANAN
Ikan lele banyak ditemukan di benua Afrika dan Asia.
Dibudidayakan di Thailand, India, Philipina dan Indonesia. Di Thailand
produksi ikan lele ± 970 kg/100m2/tahun. Di India (daerah
Asam) produksinya rata-rata tiap 7 bulan mencapai 1200 kg/Ha.
3. JENIS
Klasifikasi ikan lele menurut Hasanuddin Saanin dalam
Djatmika et al (1986)
adalah:
Kingdom : Animalia
Sub-kingdom : Metazoa
Phyllum : Chordata
Sub-phyllum : Vertebrata
Klas : Pisces
Sub-klas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Sub-ordo : Siluroidea
Familia : Clariidae
Genus : Clarias
adalah:
Kingdom : Animalia
Sub-kingdom : Metazoa
Phyllum : Chordata
Sub-phyllum : Vertebrata
Klas : Pisces
Sub-klas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Sub-ordo : Siluroidea
Familia : Clariidae
Genus : Clarias
Di Indonesia ada 6 (enam) jenis ikan lele yang dapat
dikembangkan:
- Clarias batrachus, dikenal sebagai ikan lele (Jawa), ikan kalang (Sumatera Barat), ikan maut (Sumatera Utara), dan ikan pintet (Kalimantan Selatan).
- Clarias teysmani, dikenal sebagai lele Kembang (Jawa Barat), Kalang putih (Padang).
- Clarias melanoderma, yang dikenal sebagai ikan duri (Sumatera Selatan), wais (Jawa Tengah), wiru (Jawa Barat).
- Clarias nieuhofi, yang dikenal sebagai ikan lindi (Jawa), limbat (Sumatera Barat), kaleh (Kalimantan Selatan).
- Clarias loiacanthus, yang dikenal sebagai ikan keli (Sumatera Barat), ikan penang (Kalimantan Timur).
- Clarias gariepinus, yang dikenal sebagai lele Dumbo (Lele Domba), King cat fish, berasal dari Afrika.
4. MANFAAT
- Sebagai bahan makanan
- Ikan lele dari jenis C. batrachus juga dapat dimanfaatkan sebagai
ikan pajangan atau ikan hias.
- Ikan lele yang dipelihara di sawah dapat bermanfaat untuk memberantas
hama padi berupa serangga air, karena merupakan salah satu makanan
alami ikan lele.
- Ikan lele juga dapat diramu dengan berbagai bahan obat lain untuk mengobati penyakit asma, menstruasi (datang bulan) tidak teratur, hidung berdarah, kencing darah dan lain-lain.
5. PERSYARATAN LOKASI
- Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos, berlumpur dan subur. Lahan yang dapat digunakan untuk budidaya lele dapat berupa: sawah, kecomberan, kolam pekarangan, kolamkebun, dan blumbang.
- Ikan lele hidup dengan baik di daerah dataran rendah sampai daerah yang tingginya maksimal 700 m dpl.
- Elevasi tanah dari permukaan sumber air dan kolam adalah 5-10%.
- Lokasi untuk pembuatan kolam harus berhubungan langsung atau dekat dengan sumber air dan tidak dekat dengan jalan raya.
- Lokasi untuk pembuatan kolam hendaknya di tempat yang teduh,
tetapi tidak berada di bawah pohon yang daunnya mudah rontok.
- Ikan lele dapat hidup pada suhu 20°C, dengan suhu optimal
antara 25-28°C. Sedangkan untuk pertumbuhan larva diperlukan
kisaran suhu antara 26-
30°C dan untuk pemijahan 24-28 ° C.
- Ikan lele dapat hidup dalam perairan agak tenang dan kedalamannya
cukup, sekalipun kondisi airnya jelek, keruh, kotor dan miskin
zat O2.
- Perairan tidak boleh tercemar oleh bahan kimia, limbah industri,
merkuri, atau mengandung kadar minyak atau bahan lainnya yang
dapat mematikan
ikan.
- Perairan yang banyak mengandung zat-zat yang dibutuhkan ikan
dan bahan makanan alami. Perairan tersebut bukan perairan yang
rawan banjir.
- Permukaan perairan tidak boleh tertutup rapat oleh sampah atau
daun-daunan hidup, seperti enceng gondok.
- Mempunyai pH 6,5–9; kesadahan (derajat butiran kasar )
maksimal 100 ppm dan optimal 50 ppm; turbidity (kekeruhan) bukan
lumpur antara 30–60
cm; kebutuhan O2 optimal pada range yang cukup lebar, dari 0,3 ppm untuk yang dewasa sampai jenuh untuk burayak; dan kandungan CO2 kurang dari
12,8 mg/liter, amonium terikat 147,29-157,56 mg/liter. - Persyaratan untuk pemeliharaan ikan lele di keramba :
- Sungai atau saluran irigasi tidak curam, mudah dikunjungi/dikontrol.
- Dekat dengan rumah pemeliharaannya.
- Lebar sungai atau saluran irigasi antara 3-5 meter.
- Sungai atau saluran irigasi tidak berbatu-batu, sehingga
keramba mudah dipasang.
- Kedalaman air 30-60 cm.
- Sungai atau saluran irigasi tidak curam, mudah dikunjungi/dikontrol.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
- Penyiapan Sarana dan Peralatan
Dalam pembuatan kolam pemeliharaan ikan lele sebaiknya ukurannya tidak terlalu luas. Hal ini untuk memudahkan pengontrolan dan pengawasan. Bentuk
dan ukuran kolam pemeliharaan bervariasi, tergantung selera pemilik dan lokasinya. Tetapi sebaiknya bagian dasar dan dinding kolam dibuat permanen.
Pada minggu ke 1-6 air harus dalam keadaan jernih kolam, bebas dari pencemaran maupun fitoplankton. Ikan pada usia 7-9 minggu kejernihan airnya harus dipertahankan. Pada minggu 10, air dalam batas-batas tertentu masih diperbolehkan. Kekeruhan menunjukkan kadar bahan padat yang melayang dalam air (plankton). Alat untuk mengukur kekeruhan air disebut secchi. Prakiraan kekeruhan air berdasarkan usia lele (minggu) sesuai angka secchi :- Usia 10-15 minggu, angka secchi = 30-50
- Usia 16-19 minggu, angka secchi = 30-40
- Usia 20-24 minggu, angka secchi = 30
- Usia 10-15 minggu, angka secchi = 30-50
- Penyiapan Bibit
- Menyiapkan Bibit
- Pemilihan Induk
- Ciri-ciri induk lele jantan:
- Kepalanya lebih kecil dari induk ikan lele
betina.
- Warna kulit dada agak tua bila dibanding induk
ikan lele betina.
- Urogenital papilla (kelamin) agak menonjol,
memanjang ke arah belakang, terletak di belakang
anus, dan warna kemerahan.
- Gerakannya lincah, tulang kepala pendek dan
agak gepeng (depress).
- Perutnya lebih langsing dan kenyal bila dibanding
induk ikan lele betina.
- Bila bagian perut di stripping secara manual
dari perut ke arah ekor akan mengeluarkan cairan
putih kental (spermatozoa-mani).
- Kulit lebih halus dibanding induk ikan lele
betina.
- Kepalanya lebih kecil dari induk ikan lele
betina.
- Ciri-ciri induk lele betina
- Kepalanya lebih besar dibanding induk lele
jantan.
- Warna kulit dada agak terang.
- Urogenital papilla (kelamin) berbentuk oval
(bulat daun), berwarna kemerahan, lubangnya agak
lebar dan terletak di belakang anus.
- Gerakannya lambat, tulang kepala pendek dan
agak cembung.
- Perutnya lebih gembung dan lunak.
- Bila bagian perut di stripping secara manual
dari bagian perut ke arah ekor akan mengeluarkan
cairan kekuning-kuningan (ovum/telur).
- Kepalanya lebih besar dibanding induk lele
jantan.
- Syarat induk lele yang baik:
- Kulitnya lebih kasar dibanding induk lele jantan.
- Induk lele diambil dari lele yang dipelihara
dalam kolam sejak kecil supaya terbiasa hidup
di kolam.
- Berat badannya berkisar antara 100-200 gram,
tergantung kesuburan badan dengan ukuran panjang
20-5 cm.
- Bentuk badan simetris, tidak bengkok, tidak
cacat, tidak luka, dan lincah.
- Umur induk jantan di atas tujuh bulan, sedangkan
induk betina berumur satu tahun.
- Frekuensi pemijahan bisa satu bula sekali,
dan sepanjang hidupnya bisa memijah lebih dari
15 kali dengan syarat apabila makanannya
mengandung cukup protein.
- Kulitnya lebih kasar dibanding induk lele jantan.
- Ciri-ciri induk lele siap memijah adalah calon
induk terlihat mulai berpasang-pasangan, kejar-kejaran
antara yang jantan dan yang betina. Induk tersebut
segera ditangkap dan ditempatkan dalam kolam tersendiri
untuk dipijahkan.
- Perawatan induk lele:
- Selama masa pemijahan dan masa perawatan, induk
ikan lele diberi makanan yang berkadar protein
tinggi seperti cincangan daging
bekicot, larva lalat/belatung, rayap atau makanan buatan (pellet). Ikan lele membutuhkan pellet dengan kadar protein yang relatif
tinggi, yaitu ± 60%. Cacing sutra kurang baik untuk makanan induk lele, karena kandungan lemaknya tinggi. Pemberian cacing sutra
harus dihentikan seminggu menjelang perkawinan atau pemijahan. - Makanan diberikan pagi hari dan sore hari dengan
jumlah 5-10% dari berat total ikan.
- Setelah benih berumur seminggu, induk betina
dipisahkan, sedangkan induk jantan dibiarkan untuk
menjaga anak-anaknya. Induk jantan baru bisa dipindahkan
apabila anak-anak lele sudah berumur 2 minggu.
- Segera pisahkan induk-induk yang mulai lemah
atau yang terserang penyakit untuk segera diobati.
- Mengatur aliran air masuk yang bersih, walaupun
kecepatan aliran tidak perlu deras, cukup 5-6
liter/menit.
- Selama masa pemijahan dan masa perawatan, induk
ikan lele diberi makanan yang berkadar protein
tinggi seperti cincangan daging
- Ciri-ciri induk lele jantan:
- Pemijahan Tradisional
- Pemijahan di Kolam Pemijahan
- Kolam induk:
- Kolam dapat berupa tanah seluruhnya atau
tembok sebagian dengan dasar tanah.
- Luas bervariasi, minimal 50 m2.
- Kolam terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian
dangkal (70%) dan bagian dalam (kubangan)
30 % dari luas kolam. Kubangan ada di bagian
tengah kolam dengan kedalaman 50-60 cm, berfungsi
untuk bersembunyi induk, bila kolam disurutkan
airnya.
- Pada sisi-sisi kolam ada sarang peneluran
dengan ukuran 30x30x25 cm3, dari tembok yang
dasarnya dilengkapi saluran pengeluaran dari
pipa paralon diamneter 1 inchi untuk keluarnya
banih ke kolam pendederan.
- Setiap sarang peneluran mempunyai satu
lubang yang dibuat dari pipa paralon (PVC)
ukuran ± 4 inchi untuk masuknya induk-induk
lele.
- Jarak antar sarang peneluran ± 1
m.
- Kolam dikapur merata, lalu tebarkan pupuk
kandang (kotoran ayam) sebanyak 500-750 gram/m2.
- Airi kolam sampai batas kubangan, biarkan
selama 4 hari. Kolam Rotifera (cacing bersel
tunggal):
- Letak kolam rotifera di bagian atas dari
kolam induk berfungi untuk menumbuhkan makanan
alami ikan (rotifera).
- Kolam rotifera dihubungkan ke kolam induk
dengan pipa paralon untuk mengalirkan rotifera.
- Kolam rotifera diberi pupuk organik untuk
memenuhi persyaratan tumbuhnya rotifera.
- Luas kolam ± 10 m2.
- Kolam dapat berupa tanah seluruhnya atau
tembok sebagian dengan dasar tanah.
- Pemijahan:
- Siapkan induk lele betina sebanyak 2 x
jumlah sarang yang tersedia dan induk jantan
sebanyak jumlah sarang; atau satu pasang per
sarang; atau satu pasang per 2-4 m2 luas kolam
(pilih salah satu).
- Masukkan induk yang terpilih ke kubangan,
setelah kubangan diairi selama 4 hari.
- Beri/masukkan makanan yang berprotein tinggi
setiap hari seperti cacing, ikan rucah, pellet
dan semacamnya, dengan dosis (jumlah berat
makanan) 2-3% dari berat total ikan yang ditebarkan
.
- Biarkan sampai 10 hari.
- Setelah induk dalam kolam selama 10 hari,
air dalam kolam dinaikkan sampai 10-15 cm
di atas lubang sarang peneluran atau kedalaman
air dalam sarang sekitar 20-25 cm. Biarkan
sampai 10 hari. Pada saat ini induk tak perlu
diberi makan, dan diharapkan selama 10 hari
berikutnya induk telah memijah dan bertelur.
Setelah 24 jam, telur telah menetas di sarang,
terkumpullah benih lele. Induk lele yang baik
bertelur 2-3 bulan satu kali bila makanannya
baik dan akan bertelur terus sampai umur 5
tahun.
- Benih lele dikeluarkan dari sarnag ke kolam
pendederan dengan cara: air kolam disurutkan
sampai batas kubangan, lalu benih
dialirkan melalui pipa pengeluaran.
- Benih-benih lele yang sudah dipindahkan
ke kolam pendederan diberi makanan secara
intensif, ukuran benih 1-2 cm, dengan
kepadatan 60 -100 ekor/m2.
- Dari seekor induk lele dapat menghasilkan
± 2000 ekor benih lele. Pemijahan induk
lele biasanya terjadi pada sore hari atau
malam hari.
- Siapkan induk lele betina sebanyak 2 x
jumlah sarang yang tersedia dan induk jantan
sebanyak jumlah sarang; atau satu pasang per
sarang; atau satu pasang per 2-4 m2 luas kolam
(pilih salah satu).
- Kolam induk:
- Pemijahan di Bak Pemijahan Secara Berpasangan
- Penyiapan bak pemijahan secara berpasangan:
- Buat bak dari semen atau teraso dengan
ukuran 1 x 1 m atau 1 x 2 m dan tinggi 0,6
m.
- Di dalam bak dilengkapi kotak dari kayu
ukuran 25 x 40x30 cm tanpa dasar sebagai sarang
pemijahan. Di bagian atas diberi lubang dan
diberi tutup untuk melihat adanya telur dalam
sarang. Bagian depan kotak/sarang pemijahan
diberi enceng gondok supaya kotak menjadi
gelap.
- Sarang pemijahan dapat dibuat pula dari
tumpukan batu bata atau ember plastik atau
barang bekas lain yang memungkinkan.
- Sarang bak pembenihan diberi ijuk dan kerikil
untuk menempatkan telur hasil pemijahan.
- Sebelum bak digunakan, bersihkan/cuci dengan
air dan bilas dengan formalin 40 % atau KMnO4
(dapat dibeli di apotik); kemudian bilas lagi
dengan air bersih dan keringkan.
- Buat bak dari semen atau teraso dengan
ukuran 1 x 1 m atau 1 x 2 m dan tinggi 0,6
m.
- Pemijahan:
- Tebarkan I (satu) pasang induk dalam satu
bak setelah bak diisi air setinggi ±
25 cm. Sebaiknya airnya mengalir. Penebaran
dilakukan pada jam 14.00–16.00.
- Biarkan induk selama 5-10 hari, beri makanan
yang intensif. Setelah ± 10 hari, diharapkan
sepasang induk ini telah memijah, bertelur
dan dalam waktu 24 jam telur-telur telah menetas.
Telur-telur yang baik adalah yang berwarna
kuning cerah.
- Beri makanan anak-anak lele yang masih
kecil (stadium larva) tersebut berupa kutu
air atau anak nyamuk dan setelah agak besar
dapat diberi cacing dan telur rebus.
- Tebarkan I (satu) pasang induk dalam satu
bak setelah bak diisi air setinggi ±
25 cm. Sebaiknya airnya mengalir. Penebaran
dilakukan pada jam 14.00–16.00.
- Penyiapan bak pemijahan secara berpasangan:
- Pemijahan di Bak Pemijahan Secara Masal
- Penyiapan bak pemijahan secara masal:
- Buat bak dari semen seluas 20 m2 atau 50
m2, ukuran 2x10 m2 atau 5x10 m2.
- Di luar bak, menempel dinding bak dibuat
sarang pemijahan ukuran 30x30x30 cm3, yang
dilengkapi dengan saluran pengeluaran benih
dari paralon (PVC) berdiameter 1 inchi. Setiap
sarang dibuatkan satu lubang dari paralon
berdiameter 4 inchi.
- Dasar sarang pemijahan diberi ijuk dan
kerikil untuk tempat menempel telur hasil
pemijahan.
- Sebelum digunakan, bak dikeringkan dan
dibilas dengan larutan desinfektan atau formalin,
lalu dibilas dengan air bersih; kemudian keringkan.
- Buat bak dari semen seluas 20 m2 atau 50
m2, ukuran 2x10 m2 atau 5x10 m2.
- Pemijahan:
- Tebarkan induk lele yang terpilih (matang
telur) dalam bak pembenihan sebanyak 2xjumlah
sarang , induk jantan sama banyaknya dengan
induk betina atau dapat pula ditebarkan 25-50
pasang untuk bak seluas 50 m2 (5x10 m2), setelah
bak pembenihan diairi setinggi 1 m.
- Setelah 10 hari induk dalam bak, surutkan
air sampai ketinggian 50- 60 cm, induk beri
makan secara intensif.
- Sepuluh hari kemudian, air dalam bak dinaikkan sampai di atas lubang sarang sehingga air dalam sarang mencapai ketinggian 20-25 cm.
- Saat air ditinggikan diharapkan induk-induk
berpasangan masuk sarang pemijahan, memijah
dan bertelur. Biarkan sampai ± 10 hari.
- Sepuluh hari kemudian air disurutkan lagi,
dan diperkirakan telur-telur dalam sarang
pemijahan telah menetas dan menjadi benih
lele.
- Benih lele dikeluarkan melalui saluran
pengeluaran benih untuk didederkan di kolam
pendederan.
- Tebarkan induk lele yang terpilih (matang
telur) dalam bak pembenihan sebanyak 2xjumlah
sarang , induk jantan sama banyaknya dengan
induk betina atau dapat pula ditebarkan 25-50
pasang untuk bak seluas 50 m2 (5x10 m2), setelah
bak pembenihan diairi setinggi 1 m.
- Penyiapan bak pemijahan secara masal:
- Pemijahan di Kolam Pemijahan
- Pemijahan Buatan
Cara ini disebut Induced Breeding atau hypophysasi yakni merangsang ikan lele untuk kawin dengan cara memberikan suntikan berupa cairan hormon ke dalam tubuh ikan. Hormon hipophysa berasal dari kelenjar hipophysa, yaitu hormon gonadotropin. Fungsi hormon gonadotropin:- Gametogenesis: memacu kematangan telur dan sperma,
disebut Follicel Stimulating Hormon. Setelah 12 jam
penyuntikan, telur mengalami ovulasi (keluarnya telur
dari jaringan ikat indung telur). Selama ovulasi,
perut ikan betina akan membengkak sedikit demi sedikit
karena ovarium menyerap air. Saat itu merupakan saat
yang baik untuk melakukan pengurutan perut (stripping).
- Mendorong nafsu sex (libido)
- Gametogenesis: memacu kematangan telur dan sperma,
disebut Follicel Stimulating Hormon. Setelah 12 jam
penyuntikan, telur mengalami ovulasi (keluarnya telur
dari jaringan ikat indung telur). Selama ovulasi,
perut ikan betina akan membengkak sedikit demi sedikit
karena ovarium menyerap air. Saat itu merupakan saat
yang baik untuk melakukan pengurutan perut (stripping).
- Pemilihan Induk
- Perlakuan dan Perawatan Bibit
- Kolam untuk pendederan:
- Bentuk kolam pada minggu 1-2, lebar 50 cm, panjang
200 cm, dan tinggi 50 cm. Dinding kolam dibuat tegak
lurus, halus, dan licin, sehingga apabila bergesekan
dengan tubuh benih lele tidak akan melukai. Permukaan
lantai agak miring menuju pembuangan air. Kemiringan
dibuat beda 3 cm di antara kedua ujung lantai, di
mana yang dekat tempat pemasukan air lebih tinggi.
Pada lantai dipasang pralon dengan diameter 3-5 cm
dan panjang 10 m.
- Kira-kira 10 cm dari pengeluaran air dipasang saringan
yang dijepit dengan 2 bingkai kayu tepat dengan permukaan
dalam dinding kolam. Di antara 2 bingkai dipasang
selembar kasa nyamuk dari bahan plastik berukuran
mess 0,5-0,7 mm, kemudian dipaku.
- Setiap kolam pendederan dipasang pipa pemasukan
dan pipa air untuk mengeringkan kolam. Pipa pengeluaran
dihubungkan dengan pipa
plastik yang dapat berfungsi untuk mengatur ketinggian air kolam. Pipa plastik tersebut dikaitkan dengan suatu pengait sebagai gantungan. - Minggu ketiga, benih dipindahkan ke kolam pendederan yang lain. Pengambilannya tidak boleh menggunakan jaring, tetapi dengan mengatur ketinggian pipa plastik.
- Kolam pendederan yang baru berukuran 100 x 200
x 50 cm, dengan bentuk dan konstruksi sama dengan
yang sebelumnya.
- Bentuk kolam pada minggu 1-2, lebar 50 cm, panjang
200 cm, dan tinggi 50 cm. Dinding kolam dibuat tegak
lurus, halus, dan licin, sehingga apabila bergesekan
dengan tubuh benih lele tidak akan melukai. Permukaan
lantai agak miring menuju pembuangan air. Kemiringan
dibuat beda 3 cm di antara kedua ujung lantai, di
mana yang dekat tempat pemasukan air lebih tinggi.
Pada lantai dipasang pralon dengan diameter 3-5 cm
dan panjang 10 m.
- Penjarangan:
- Penjarangan adalah mengurangi padat penebaran yang
dilakukan karena ikan lele berkembang ke arah lebih
besar, sehingga volume
ratio antara lele dengan kolam tidak seimbang.
- Apabila tidak dilakukan penjarangan dapat mengakibatkan
:
- Ikan berdesakan, sehingga tubuhnya akan luka.
- Terjadi perebutan ransum makanan dan suatu
saat dapat memicu mumculnya kanibalisme (ikan
yang lebih kecil dimakan oleh ikan
yang lebih besar).
- Suasana kolam tidak sehat oleh menumpuknya
CO2 dan NH3, dan O2 kurang sekali sehingga pertumbuhan
ikan lele terhambat.
- Apabila tidak dilakukan penjarangan dapat mengakibatkan
:
- Cara penjarangan pada benih ikan lele :
- Minggu 1-2, kepadatan tebar 5000 ekor/m2
- Minggu 3-4, kepadatan tebar 1125 ekor/m2
- Minggu 5-6, kepadatan tebar 525 ekor/m2
- Minggu 1-2, kepadatan tebar 5000 ekor/m2
- Penjarangan adalah mengurangi padat penebaran yang
dilakukan karena ikan lele berkembang ke arah lebih
besar, sehingga volume
- Pemberian pakan:
- Hari pertama sampai ketiga, benih lele mendapat
makanan dari kantong kuning telur (yolk sac) yang
dibawa sejak menetas.
- Hari keempat sampai minggu kedua diberi makan zooplankton,
yaitu Daphnia dan Artemia yang mempunyai protein 60%.
Makanan tersebut diberikan dengan dosis 70% x biomassa
setiap hari yang dibagi dalam 4 kali pemberian. Makanan
ditebar disekitar tempat pemasukan air. Kira-kira
2-3 hari sebelum pemberian pakan zooplankton berakhir,
benih lele harus dikenalkan dengan makanan dalam bentuk
tepung yang berkadar protein 50%. Sedikit dari tepung
tersebut diberikan kepada benih 10-15 menit sebelum
pemberian zooplankton. Makanan yang berupa teoung
dapat terbuat dari campuran kuning telur, tepung udang
dan sedikit bubur nestum.
- Minggu ketiga diberi pakan sebanyak 43% x biomassa
setiap hari.
- Minggu keempat dan kelima diberi pakan sebanyak
32% x biomassa setiap hari.
- Minggu kelima diberi pakan sebanyak 21% x biomassa
setiap hari.
- Minggu ketiga diberi pakan sebanyak 43% x biomassa
setiap hari.
- Minggu keenam sudah bisa dicoba dengan pemberian
pelet apung.
- Hari pertama sampai ketiga, benih lele mendapat
makanan dari kantong kuning telur (yolk sac) yang
dibawa sejak menetas.
- Pengepakan dan pengangkutan benih
- Cara tertutup:
- Kantong plastik yang kuat diisi air bersih
dan benih dimasukkan sedikit demi sedikit. Udara
dalam plastik dikeluarkan. O2 dari tabung dimasukkan
ke dalam air sampai volume udara dalam plastik
1/3–1/4 bagian. Ujung plastik segera diikat
rapat.
- Plastik berisi benih lele dimasukkan dalam
kardus atau peti supaya tidak mudah pecah.
- Kantong plastik yang kuat diisi air bersih
dan benih dimasukkan sedikit demi sedikit. Udara
dalam plastik dikeluarkan. O2 dari tabung dimasukkan
ke dalam air sampai volume udara dalam plastik
1/3–1/4 bagian. Ujung plastik segera diikat
rapat.
- Cara terbuka dilakukan bila jarak tidak terlalu
jauh:
- Benih lele dilaparkan terlebih dahulu agar
selama pengangkutan, air tidak keruh oleh kotoran
lele. (Untuk pengangkutan lebih dari 5 jam).
- Tempat lele diisi dengan air bersih, kemudian
benih dimasukkan sedikit demi sedikit. Jumlahnya
tergantung ukurannya. Benih ukuran
10 cm dapat diangkut dengan kepadatan maksimal 10.000/m3 atau 10 ekor/liter. Setiap 4 jam, seluruh air diganti di tempat yang teduh.
- Benih lele dilaparkan terlebih dahulu agar
selama pengangkutan, air tidak keruh oleh kotoran
lele. (Untuk pengangkutan lebih dari 5 jam).
- Cara tertutup:
- Kolam untuk pendederan:
- Menyiapkan Bibit
- Pemeliharaan Pembesaran
- Pemupukan
- Sebelum digunakan kolam dipupuk dulu. Pemupukan bermaksud
untuk menumbuhkan plankton hewani dan nabati yang menjadi
makanan alami bagi benih lele.
- Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang (kotoran
ayam) dengan dosis 500-700 gram/m 2 . Dapat pula ditambah
urea 15 gram/m2, TSP 20 gram/m 2 , dan amonium nitrat
15 gram/m 2 . Selanjutnya dibiarkan selama 3 hari.
- Kolam diisi kembali dengan air segar. Mula-mula 30-50
cm dan dibiarkan selama satu minggu sampai warna air kolam
berubah menjadi coklat atau kehijauan yang menunjukkan
mulai banyak jasad-jasad renik yang tumbuh sebagai makanan
alami lele.
- Secara bertahap ketinggian air ditambah, sebelum benih lele ditebar.
- Sebelum digunakan kolam dipupuk dulu. Pemupukan bermaksud
untuk menumbuhkan plankton hewani dan nabati yang menjadi
makanan alami bagi benih lele.
- Pemberian Pakan
- Makanan Alami Ikan Lele
- Makanan alamiah yang berupa Zooplankton, larva,
cacing-cacing, dan serangga air.
- Makanan berupa fitoplankton adalah Gomphonema spp
(gol. Diatome), Anabaena spp (gol. Cyanophyta), Navicula
spp (gol. Diatome),
ankistrodesmus spp (gol. Chlorophyta).
- Ikan lele juga menyukai makanan busuk yang berprotein.
- Ikan lele juga menyukai kotoran yang berasal dari kakus.
- Makanan alamiah yang berupa Zooplankton, larva,
cacing-cacing, dan serangga air.
- Makanan Tambahan
- Pemeliharaan di kecomberan dapat diberi makanan
tambahan berupa sisa-sisa makanan keluarga, daun kubis,
tulang ikan, tulang ayam yang dihancurkan, usus ayam,
dan bangkai.
- Campuran dedak dan ikan rucah (9:1) atau campuran
bekatul, jagung, dan bekicot (2:1:1).
- Pemeliharaan di kecomberan dapat diberi makanan
tambahan berupa sisa-sisa makanan keluarga, daun kubis,
tulang ikan, tulang ayam yang dihancurkan, usus ayam,
dan bangkai.
- Makanan Buatan (Pellet)
- Komposisi bahan (% berat): tepung ikan=27,00; bungkil
kacang kedele=20,00; tepung terigu=10,50; bungkil
kacang tanah=18,00;
tepung kacang hijau=9,00; tepung darah=5,00; dedak=9,00; vitamin=1,00; mineral=0,500;
- Proses pembuatan:
Dengan cara menghaluskan bahan-bahan, dijadikan adonan seperti pasta, dicetak dan dikeringkan sampai kadar airnya kurang dari 10%.
Penambahan lemak dapat diberikan dalam bentuk minyak yang dilumurkan pada pellet sebelum diberikan kepada lele. Lumuran minyak
juga dapat memperlambat pellet tenggelam. - Cara pemberian pakan:
- Pellet mulai dikenalkan pada ikan lele saat
umur 6 minggu dan diberikan pada ikan lele 10-15
menit sebelum pemberian makanan
yang berbentuk tepung. - Pada minggu 7 dan seterusnya sudah dapat langsung
diberi makanan yang berbentuk pellet.
- Hindarkan pemberian pakan pada saat terik matahari,
karena suhu tinggi dapat mengurangi nafsu makan
lele.
- Pellet mulai dikenalkan pada ikan lele saat
umur 6 minggu dan diberikan pada ikan lele 10-15
menit sebelum pemberian makanan
- Komposisi bahan (% berat): tepung ikan=27,00; bungkil
kacang kedele=20,00; tepung terigu=10,50; bungkil
kacang tanah=18,00;
- Makanan Alami Ikan Lele
- Pemberian Vaksinasi
Cara-cara vaksinasi sebelum benih ditebarkan:
- Untuk mencegah penyakit karena bakteri, sebelum ditebarkan,
lele yang berumur 2 minggu dimasukkan dulu ke dalam larutan
formalin dengan
dosis 200 ppm selama 10-15 menit. Setelah divaksinasi lele tersebut akan kebal selama 6 bulan.
- Pencegahan penyakit karena bakteri juga dapat dilakukan
dengan menyutik dengan terramycin 1 cc untuk 1 kg induk.
- Pencegahan penyakit karena jamur dapat dilakukan dengan
merendam lele dalam larutan Malachite Green Oxalate 2,5–3
ppm selama 30 menit.
- Untuk mencegah penyakit karena bakteri, sebelum ditebarkan,
lele yang berumur 2 minggu dimasukkan dulu ke dalam larutan
formalin dengan
- Pemeliharaan Kolam/Tambak
- Kolam diberi perlakuan pengapuran dengan dosis 25-200
gram/m2 untuk memberantas hama dan bibit penyakit.
- Air dalam kolam/bak dibersihkan 1 bulan sekali dengan
cara mengganti semua air kotor tersebut dengan air bersih
yang telah diendapkan 2
malam.
- Kolam yang telah terjangkiti penyakit harus segera
dikeringkan dan dilakukan pengapuran dengan dosis 200
gram/m 2 selama satu minggu.
Tepung kapur (CaO) ditebarkan merata di dasar kolam, kemudian dibiarkan kering lebih lanjut sampai tanah dasar kolam retak-retak.
- Kolam diberi perlakuan pengapuran dengan dosis 25-200
gram/m2 untuk memberantas hama dan bibit penyakit.
- Pemupukan
7. HAMA DAN PENYAKIT
- Hama dan Penyakit
- Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang langsung
mengganggu kehidupan lele.
- Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang
lele antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga,
musang air, ikan
gabus dan belut.
- Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang
sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan lele
secara intensif tidak
banyak diserang hama. Penyakit parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.
- Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas
hydrophylla
Bentuk bakteri ini seperti batang dengan polar flage (cambuk yang terletak di ujung batang), dan cambuk ini digunakan untuk bergerak, berukuran 0,7–0,8 x 1–1,5 mikron. Gejala: iwarna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan, bernafas megap-megap di permukaan air. Pengendalian: memelihara lingkungan perairan agar tetap bersih, termasuk kualitas air. Pengobatan melalui makanan antara lain: (1) Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7–10 hari berturut-turut. (2) Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3–4 hari. - Penyakit Tuberculosis
Penyebab: bakteri Mycobacterium fortoitum). Gejala: tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip. Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam. Pengobatan: dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5–7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5–15 hari.
- Penyakit karena jamur/candawan Saprolegnia.
Jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah. Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas. Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5–3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1–0,2 ppm selama 1 jam atau 5–10 ppm selama 15 menit.
- Penyakit Bintik Putih dan Gatal/Trichodiniasis
Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis. Gejala: (1) ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air; (2) terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang; (3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam. Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya. Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan Formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12–24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari.
- Penyakit Cacing Trematoda
Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip. Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu. Pengendalian: (1) direndam Formalin 250 cc/m 3 air selama 15 menit; (2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam; (3) mencelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium -Permanganat (KMnO4) 0,01% selama ± 30 menit; (4) memakai larutan NaCl 2% selama ± 30 menit; (5) dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama ± 10 menit. - Parasit Hirudinae
Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan. Gejala: pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga
menyebabkan anemia/kurang darah. Pengendalian: selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.
- Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas
hydrophylla
- Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang langsung
mengganggu kehidupan lele.
- Hama Kolam/Tambak
Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah, misalnya :
- Bila suhu terlalu tinggi, kolam diberi peneduh sementara
dan air diganti dengan yang suhunya lebih dingin.
- Bila pH terlalu rendah, diberi larutan kapur 10 gram/100
l air.
- Bila kandungan gas-gas beracun (H2S, CO2), maka air harus
segera diganti.
- Bila makanan kurang, harus ditambah dosis makanannya.
- Bila suhu terlalu tinggi, kolam diberi peneduh sementara
dan air diganti dengan yang suhunya lebih dingin.
8. PANEN
- Penangkapan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemanenan:
- Lele dipanen pada umur 6-8 bulan, kecuali bila dikehendaki,
sewaktu-waktu dapat dipanen. Berat rata-rata pada umur tersebut
sekitar 200 gram/ekor.
- Pada lele Dumbo, pemanenan dapat dilakukan pada masa pemeliharaan
3-4 bulan dengan berat 200-300 gram per ekornya. Apabila waktu
pemeliharaan ditambah 5-6 bulan akan mencapai berat 1-2 kg
dengan panjang 60-70 cm.
- Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari supaya lele
tidak terlalu kepanasan.
- Kolam dikeringkan sebagian saja dan ikan ditangkap dengan
menggunakan seser halus, tangan, lambit, tangguh atau jaring.
- Bila penangkapan menggunakan pancing, biarkan lele lapar
lebih dahulu.
- Bila penangkapan menggunakan jaring, pemanenan dilakukan
bersamaan dengan pemberian pakan, sehingga lele mudah ditangkap.
- Setelah dipanen, piaralah dulu lele tersebut di dalam tong/bak/hapa
selama 1-2 hari tanpa diberi makan agar bau tanah dan bau
amisnya hilang.
- Lakukanlah penimbangan secepat mungkin dan cukup satu kali.
- Lele dipanen pada umur 6-8 bulan, kecuali bila dikehendaki,
sewaktu-waktu dapat dipanen. Berat rata-rata pada umur tersebut
sekitar 200 gram/ekor.
- Pembersihan
Setelah ikan lele dipanen, kolam harus dibersihkan dengan cara:
- Kolam dibersihkan dengan cara menyiramkan/memasukkan larutan
kapur sebanyak 20-200 gram/m 2 pada dinding kolam sampai rata.
- Penyiraman dilanjutkan dengan larutan formalin 40% atau
larutan permanganat kalikus (PK) dengan cara yang sama.
- Kolam dibilas dengan air bersih dan dipanaskan atau dikeringkan
dengan sinar matahari langsung. Hal ini dilakukan untuk membunuh
penyakit yang
ada di kolam.
- Kolam dibersihkan dengan cara menyiramkan/memasukkan larutan
kapur sebanyak 20-200 gram/m 2 pada dinding kolam sampai rata.
9. PASCAPANEN
- Setelah dipanen, lele dibersihkan dari lumpur dan isi perutnya.
Sebelum dibersihkan sebaiknya lele dimatikan terlebih dulu dengan
memukul kepalanya memakai muntu atau kayu.
- Saat mengeluarkan kotoran, jangan sampai memecahkan empedu,
karena dapat menyebabkan daging terasa pahit.
- Setelah isi perut dikeluarkan, ikan lele dapat dimanfaatkan
untuk berbagai ragam masakan.
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
- Analisis Usaha Budidaya
Analisis Usaha Pembenihan Ikan Lele Dumbo di Desa Bendosewu, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar adalah sebagai berikut:
- Biaya produksi
- Lahan
- Tanah 123 m 2 Rp. 123.000,-
- Kolam 9 buah Rp. 1.230.000,-
- Perawatan kolam Rp. 60.000,-
- Bibit/benih
- betina 40 ekor @ Rp. 12.000,- Rp. 480.000,-
- jantan 10 ekor @ Rp. 10.000,- Rp. 100.000,-
- Pakan
- Pakan benih Rp. 14.530.300,-
- Pakan induk Rp. 4.818.000,-
- Obat-obatan Rp. 42.000,-
- Peralatan
- pompa air3 bh @ Rp. 110.000,- Rp. 330.000,-
- diesel 1 bh @ Rp. 600.000,- Rp. 600.000,-
- sikat 1.bh @.Rp. 25.000,- Rp. 25.000,-
- jaring 1 bh @.Rp. 150.000,- Rp. 150.000,-
- bak 5 bh @ Rp. 3.000,- Rp. 15.000,-
- timba 7 bh @.Rp. 3.000,- Rp. 21.000,-
- alat seleksi 6 bh @.Rp. 4.000,- Rp. 24.000,-
- ciruk 5 bh @. Rp. 1.500,- Rp. 7.500,-
- gayung 5 bh @. Rp.1.000,- Rp. 5.000,-
- selang Rp. 90.000,-
- paralon Rp. 70.000,-
- Perawatan alat Rp. 120.000,-
- Tenaga kerja Rp. 420.000,-
- Lain-lain Rp. 492.000,-
- Biaya tak terduga 10% Rp. 2.522.800,-
Jumlah biaya produksi Rp. 5.045.600,-
- Lahan
- Pendapatan Rp. 2.220.000,-
- Keuntungan Rp. 7.174.400,-
- Parameter kelayakan usaha 25%
- BEP dalam unit (ekor)
- ukuran 1 1.138
- ukuran 2 325.049
- ukuran 3 65.010
- ukuran 4 6.501
- ukuran 5 11.377
- ukuran 6 260
- ukuran 1 1.138
- Biaya produksi
- Gambaran Peluang Agribisnis
Budidaya ikan lele, baik dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran mempunyai prospek yang cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan
ikan lele semakin meningkat. Dengan teknik pemeliharaan yang baik, maka akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.
11. DAFTAR PUSTAKA
- Arifin, M.Z. 1991. Budidaya lele. Dohara prize. Semarang.
- Djamiko, H., Rusdi, T. 1986. Lele. Budidaya, Hasil Olah dan
Analisa Usaha. C.V. Simplex. Jakarta.
- Djatmika, D.H., Farlina, Sugiharti, E. 1986. Usaha Budidaya
Ikan Lele. C.V. Simplex. Jakarta.
- Najiyati, S. 1992. Memelihara Lele Dumbo di Kolam Taman. Penerbit
Swadaya. Jakarta.
- Simanjutak, R.H. 1996. Pembudidayaan Ikan Lele Lokal dan Dumbo.
Bhratara. Jakarta.
- Soetomo, M.H.A. 1987. Teknik Budidaya Ikan Lele Dumbo. Sinar
Baru. Bandung.
- Susanto, H. 1987. Budidaya ikan di Pekarangan. Penebar Swadaya.
Jakarta.
12. KONTAK HUBUNGAN
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS;
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas
Langganan:
Postingan (Atom)


